Bimbingan Konseling

BIMBINGAN DAN KONSELING.

 

Pengertian dan Tujuan Bimbingan dan Konseling

 Bimbingan dan Konseling adalah

pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal,dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar,dan perencanaan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku

Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat:

(1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupan-nyadi masa yang akan datang; (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yangdimilikinya seoptimal mungkin; (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan,lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya; (4) mengatasi hambatan dan kesulitanyang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat,maupun lingkungan kerja.Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, mereka harus mendapatkan kesempatan untuk:(1) mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas-tugas perkem-bangannya,(2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya, (3)mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaiantujuan tersebut, (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5)menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat, (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan darilingkungannya; dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinyasecara optimal.Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapatmencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial, belajar (akademik), dan karir.1. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseliadalah:§

 

Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan danketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi,keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja,maupun masyarakat pada umumnya.

 Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan salingmenghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.

 

Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yangmenyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah), serta dan mampumeresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yangdianut.

 

Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun psikis.

 

Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.

 

Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat

 

Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain,tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. Memiliki rasa tanggung jawab,yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.

 

Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahim dengan sesama manusia.

 

Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifatinternal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain.

 

Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.2. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah:

Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya.

 

Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku,disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan.

 

Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat

Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilanmembaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, danmempersiapkan diri menghadapi ujian.

 

Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan,seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diridalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasitentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas.

 

Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.3. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah :

 

Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkaitdengan pekerjaan.

 

Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjangkematangan kompetensi karir.

 

Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dansesuai dengan norma agama.

 

Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran)dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadicita-cita karirnya masa depan.

 

Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara mengenaliciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut, lingkungansosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.

 

Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupansecara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat,kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.

Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir.Apabilaseorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa harusmengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut.

 

Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau kenyamanandalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki.Oleh karena itu, maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya,dalam bidang pekerjaan apa dia mampu, dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut.

 

Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir 

B.Fungsi, asas dan prinsip bimbingan

1. Fungsi Pemahaman

, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampumengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya denganlingkungan secara dinamis dan konstruktif.

 

2. Fungsi Preventif 

, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasamengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatanatau kegiatan yang membahayakan dirinya.Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konselidalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan,drop out , dan pergaulan bebas (free sex).

 

3. Fungsi Pengembangan

, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya.Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakanlingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselordan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagaiteamwork berkolaborasiatau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematisdan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayananinformasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat(brain storming ),home room,dan karyawisata.

4. Fungsi Penyembuhan,

yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif.Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telahmengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir.Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, danremedial teaching 

 

5. Fungsi Penyaluran

, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konselimemilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-cirikepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.

 

6. Fungsi Adaptasi 

, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepalaSekolah/Madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikanterhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Denganmenggunakan informasi yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapatmembantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih danmenyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan prosespembelajaran, maupunmenyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.

 

7. Fungsi Penyesuaian

, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseliagar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dankonstruktif.

 

8. Fungsi Perbaikan,

yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konselisehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak). Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konselisupaya memiliki pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepatsehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dannormatif.

 

9. Fungsi Fasilitasi,

memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruhaspek dalam diri konseli.

 

10. Fungsi Pemeliharaan,

yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konselisupaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah terciptadalam dirinya. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yangakan menyebabkan penurunan produktivitas diri.Pelaksanaan fungsi ini diwujudkanmelalui program-program yang menarik, rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai denganminat konselingTerdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan.Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentangkemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan, baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah.

Prinsip-prinsip ituadalah:

  1. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli 

. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli, baik yang tidak  bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anakremaja, maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakandalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari padapenyembuhan(kuratif); dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan(individual).

  1. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi 

. Setiap konseli bersifatunik (berbeda satu sama lainnya), dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli, meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.

  1. Bimbingan menekankan hal yang positif 

. Dalam kenyataan masih ada konseliyang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingandipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut, bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yangmenekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan,dan peluang untuk berkembang.

  1. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama.

Bimbingan bukan hanyatugas atau tanggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepalaSekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing.Mereka bekerjasebagaiteamwork.

  1.  Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dankonseling.

Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan.Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan konseli diarahkan olehtujuannya, dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan,menyesuaikan diri, dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusanyang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan.Tujuan utama bimbinganadalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya danmengambil keputusan.

 

  1. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan.

Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung diSekolah/Madrasah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri,lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi,sosial, pendidikan, dan pekerjaan.Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukanoleh diwujudkannya asas-asas berikut.

  1. a.   Asas Kerahasiaan,

yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntutdirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yangmenjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehinggakerahasiaanya benar-benar terjamin.

  1. b.   Asas kesukarelaan,

yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendakiadanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.

  1. c.    Asas keterbukaan,

yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dantidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendirimaupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajibanmengembangkan keterbukaan konseli (konseli).Keterbukaan ini amat terkait padaterselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseliyang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan.Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.

  1. d.   Asas kegiatan,

yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif didalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru  pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.

  1. e.   Asas kemandirian,

yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk padatujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yangmandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya,mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dankonseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.

  1. f.     Asas Kekinian,

yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli(konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan “masadepan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengankondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.

  1. g.   Asas Kedinamisan,

yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuaidengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.

  1. h.   Asas Keterpaduan,

yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar  berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukanoleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, danterpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terusdikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konselingitu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

  1. i.     Asas Keharmonisan,

yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendakiagar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan padadan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dannorma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dankebiasaan yang berlaku. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dankonseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannyatidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanandan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkankemampuan konseli (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilaidan norma tersebut.

  1. j.     Asas Keahlian,

yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar  pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling.Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupundalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.

  1. k.   Asas Alih Tangan Kasus,

yaitu asas bimbingan dan konseling yangmenghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli(konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain,atau ahli lain ; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankankasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain.

 

C.Bidang dan Jenis- Jenis Layanan Bimbingan

 Bidang Bimbingan Konseling 

  • Pengembangan kehidupan pribadi, yaitu bidang pelayanan yangmembantu peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan potensi dan kecakapan, bakat dan minat, serta kondisi sesuai dengankarakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik.
  • Pengembangan kehidupan sosial, yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkankemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya,anggota keluarga, dan warga lingkungan sosial yang lebih luas
  • Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pelayanan yangmembantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalamrangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secaramandiri.
  • Pengembangan karir, yaitu bidang pelayanan yang membantu pesertadidik dalam memahami dan menilai informasi, serta memilih danmengambil keputusan karir 

 

Jenis- Jenis Layanan Bimbingan

Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah, terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa, diantaranya:Layanan Orientasi; layanan yang memungkinan peserta didik memahamilingkungan baru, terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu,sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester.Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikandiri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai, yang berfungsi untuk pencegahandanpemaha man.Layanan Informasi; layanan yang memungkinan peserta didik menerima danmemahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar, pergaulan, karier, pendidikan lanjutan). Tujuan layanan informasi adalah membantu pesertadidik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu, dalam bidang pribadi, sosial, belajar maupun karier berdasarkan informasi yangdiperolehnya yang memadai.Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahandan pemahaman.

  • Layanan Konten; layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkansikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuandirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan.
  • Layanan Penempatan dan Penyaluran; layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas,kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang,kegiatan ko/ekstra kurikuler, dengan tujuan agar peserta didik dapatmengembangkan segenap bakat, minat dan segenap potensi lainnya.Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan.
  • Layanan Konseling Perorangan; layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan)untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangandirinya. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan KonselingPerorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.
  • Layanan Bimbingan Kelompok; layanan yang memungkinan sejumlah pesertadidik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, sertauntuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamikakelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahandan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilankeputusan atau tindakan tertentu melalui dinamikakelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahamandan Pengembangan
  • Layanan Konseling Kelompok; layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk  pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamikakelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperolehinventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian, buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya.Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan, layanan bimbingan dan konseling telahmenekankan pentingnya logika, pemikiran, pertimbangan dan pengolahan lingkungansecara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno, 2003).Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. Beberapadisiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek  bimbingan dan konseling, seperti : psikologi, ilmu pendidikan, statistik, evaluasi, biologi,filsafat, sosiologi, antroplogi, ilmu ekonomi, manajemen, ilmu hukum dan agama.Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling, baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selaindihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli, juga dihasilkan melalui berbagai bentuk  penelitian.Sejalan dengan perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi berbasiskomputer, sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. Menurut Gausel (Prayitno, 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling pendidikan.Moh. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembanganteknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien)tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melaluihubungan secara virtual (maya) melalui internet, dalam bentuk “cyber counseling”.Dikemukakan pula, bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntutkesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling.Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini, maka peran konselor didalamnyamencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno,2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. Sebagai ilmuwan, konselor harus mampumengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling, baik  berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian.Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia, Prayitno(2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis, landasan religius dan landasan yuridis-formal.Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi,yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakansalah satu bentuk kegiatan pendidikan; (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dankonseling; dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dankonseling.Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok, yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan; (b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama; dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannyasecara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi)serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. Ditegaskan pula oleh Moh.Surya(2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dankonseling spiritual. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Baratyang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikankebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan.Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilaispiritual. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dankonseling yang berlandaskan spiritual atau religi.Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling, yang bersumber dari Undang-Undang Dasar, Undang – Undang, Peraturan Pemerintah, KeputusanMenteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia

H.Kode Etik bimbingan dan Konseling

Kode etik adalah pola ketentuan / aturan / tata cra yang menjadi pedoman menjalani tugasdan aktivitas suatu profesi.

 

Di samping rumusan kode etik bimbingan dan konseling yang dirumusakan oleh ikatan petugas bimbingan Indonesia, yaitu:

  1. Pembimbing menghormati harkat klien.
  2. Pembimbing menempatkan kepentingan klien diatas kepentingan pribadi.
  3. Pembimbing tidak membedakan klien
  4. Pembimbing dapat menguasai dirinya, dalam arti kata kekurangan-kekurangannya dan perasangka-prasangka pada dirinya.
  5. Pembimbing mempunyai sifat renda hati sederhana dan sabar.
  6. Pembimbing terbuka terhadap saran yang diberikan pada klien.
  7. Pembimbing memiliki sifat tanggung jawab terhadab lembaga ataupun orang yangdilayani.
  8. pembimbing mengusahakan mutu kerjanya sebaik mungkin.
  9. pembimbing mengetahui pengetahuan dasar yang memadai tentang tingkah laku orang ,serta tehnik dan prosedur layanan bimbingan guna memberikan layanan sebaik-baiknya.

10. seluruh catatan tentang klien bersifat rahasia.

11. suatu tes hanya boleh diberikan kepada petugas yang berwenang menggunakan danmenafsirkan hasilnya.Beberapa rumusan kode etik bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut:

  1. Pembimbing yang memegang jabatan harus memegang teguh prinsip-prinsipbimbingan dan kinseling.
  2. pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai hasil yang baik.
  3. pekerjaan pembimbing harus harus berkaitan dengan kehidupan pribadi seseorang makaseorang pembimbing harus:
    1. Dapat menyimpan rahasia klien
    2. Menunjukkan penghargaan yang sama pada berbagai macam klien.
    3. Pembimbing tidak diperkjenan menggunakan tena pembantu yang tidak ahli.
    4. Menunjukkan sikap hormat kepada kliene.

Meminta bantuan alhi diluar kemampuan sta

Don't forget to comment it

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s