Manajemen Peserta Didik

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Manajemen peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah.  Knezevich (1961) mengartikan manajemen peserta didik atau pupil personal administration sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individual seperti pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah.

Secara sosiologis, peserta didik mempunyai kesamaan-kesamaan. Adanya kesamaan-kesamaan yang dipunyai anak inilah yang melahirkan kensekuensi kesamaan hak-hak yang mereka punyai. Kesamaan hak-hak yang dimiliki oleh anak itulah, yang kemudian melahirkan layanan pendidikan yang sama melalui sistem persekolahan (schooling). Dalam sistem demikian, layanan yang diberikan diaksentuasikan kepada kesamaan-kesamaan yang dipunyai oleh anak. Pendidikan melalui sistem schooling dalam realitasnya memang lebih bersifat massal ketimbang bersifat individual. Layanan yang lebih diaksentuasikan kepada kesamaan anak  yang bersifat massal ini, kemudian digugat.

Gugatan demikian, berkaitan erat dengan pandanganpsikologis mengenai anak. Bahwa setiap individu pada hakekatnya adalah berbeda. Oleh karena berbeda, maka mereka membutuhkan layanan-layanan pendidikan yang berbeda.

Layanan atas kesamaan yang dilakukan oleh sistem schooling tersebut dipertanyakan, dan sebagai responsinya kemudian diselipkan layanan-layanan yang berbeda pada sistem schooling tersebut.

Adanya dua tuntutan pelayanan terhadap siswa,– yakni aksentuasi pada layanan kesamaan dan perbedaan anak–, melahirkan pemikiran pentingnya manajemen peserta didik  untuk mengatur bagaimana agar tuntutan dua macam layanan tersebut dapat dipenuhi di sekolah.

Baik layanan yang teraksentuasi pada kesamaan maupun pada perbedaan peserta didik, sama-sama diarahkan agar peserta didik berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa tujuan dan fungsi dari Manajemen Pesrta Didik ?

2. Apa prinsip-prinsip Manajemen Peserta Didik ?

3. Apa saja pendekatan Manajemen Peserta Didik ?

4. Apa saja layanan khusus yang menunjang peserta didik ?

1.3 Tujuan

Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Manajemen Pendidikan. Selain itu, kami ingin mengetahui apa tujuan, fungsi, prinsip-prinsip dan pendekatan serta layanan khusus yang menunjang manajemen peserta didik.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Tujuan dan Fungsi Manajemen Peserta Didik

Tujuan umum manajemen peserta didik adalah: mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah; lebih lanjut, proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan.

Sedangkan tujuan khusus manajemen peserta didik adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan psikomotor peserta didik, menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan), bakat dan minat peserta didik dan menyalurkan aspirasi, harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik.

Dengan terpenuhinya tujuan tersebut, diharapkan peserta didik dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang lebih lanjut dapat belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka.

Fungsi manajemen peserta didik secara umum sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya, segi sosialnya, segi aspirasinya, segi kebutuhannya dan segi-segi potensi peserta didik lainnya.

Sedangkan fungsi manajemen peserta didik secara khusus dirumuskan sebagai berikut:

  • Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan individualitas peserta didik, ialah agar mereka dapat mengembangkan potensi-potensi individualitasnya tanpa banyak terhambat. Potensi-potensi bawaan tersebut meliputi: kemampuan umum (kecerdasan), kemampuan khusus (bakat), dan kemampuan lainnya.
  • Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan fungsi sosial peserta didik ialah agar peserta didik dapat mengadakan sosialisasi dengan sebayanya, dengan orang tua dan keluarganya, dengan lingkungan sosial sekolahnya dan lingkungan sosial masyarakatnya. Fungsi ini berkaitan dengan hakekat peserta didik sebagai makhluk sosial.
  • Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan peserta didik, ialah agar peserta didik tersalur hobi, kesenangan dan minatnya. Hobi, kesenangan dan minat peserta didik demikian patut disalurkan, oleh karena ia juga dapat menunjang terhadap perkembangan diri peserta didik secara keseluruhan.
  • Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik ialah agar peserta didik sejahtera dalam hidupnya. Kesejahteraan demikian sangat penting karena dengan demikian ia akan juga turut memikirkan kesejahteraan sebayanya.

2.2 Prinsip-Prinsip Manajemen Peserta Didik

Yang dimaksudkan dengan prinsip adalah sesuatu yang harus dipedomani dalam melaksanakan tugas. Jika sesuatu tersebut sudah tidak dipedomani lagi, maka akan tanggal sebagai suatu prinsip. Prinsip manajemen peserta didik mengandung arti bahwa dalam rangka memanaj peserta didik, prinsip-prinsip yang disebutkan di bawah ini haruslah selalu dipegang dan dipedomani. Adapun prinsip-prinsip manajemen peserta didik tersebut adalah sebagai berikut:

Manajemen peserta didik dipandang sebagai bagian dari keseluruhan manajemen sekolah. Oleh karena itu, ia harus mempunyai tujuan yang sama dan atau mendukung terhadap tujuan manajemen secara keseluruhan. Ambisi sektoral manajemen peserta didikB tetap ditempatkan dalam kerangka manajemen sekolah. Ia tidak boleh ditempatkan di luar sistem manajemen sekolah.

Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik haruslah mengemban misi pendidikan dan dalam rangka mendidik para peserta didik. Segala bentuk kegiatan, baik itu ringan, berat, disukai atau tidak disukai oleh peserta didik, haruslah diarahkan untuk mendidik peserta didik dan bukan untuk yang lainnya.

Kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik haruslah diupayakan untuk mempersatukan peserta didik yang mempunyai aneka ragam latar belakang dan punya banyak perbedaan. Perbedaan-perbedaan yang ada pada peserta didik, tidak diarahkan bagi munculnya konflik di antara mereka melainkan justru mempersatukan dan saling memahami dan menghargai.

Kegiatan manajemen peserta didik haruslah dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbingan peserta didik. Oleh karena membimbing, haruslah terdapat ketersediaan dari pihak yang dibimbing. Ialah peserta didik sendiri. Tidak mungkin pembimbingan demikian akan terlaksana dengan baik manakala terdapat keengganan dari peserta didik sendiri.

Kegiatan manajemen peserta didik haruslah mendorong dan memacu kemandirian peserta didik. Prinsip kemandirian demikian akan bermanfaat bagi peserta didik tidak hanya ketika di sekolah, melainkan juga ketika sudah terjun ke masyarakat. Ini mengandung arti bahwa ketergantungan peserta didik haruslah sedikit demi sedikit dihilangkan melalui kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik.

Apa yang diberikan kepada peserta didik dan yang selalu diupayakan oleh kegiatan manajemen peserta didik haruslah fungsional bagi kehidupan peserta didik baik di sekolah lebih-lebih di masa depan.

2.3 Pendekatan Manajemen Peserta Didik

Ada dua pendekatan yang digunakan dalam manajemen peserta didik (Yeager, 1994).

  1. Pendekatan kuantitatif (the quantitative approach).

Pendekatan ini lebih menitik beratkan pada segi-segi administratif dan birokratik lembaga pendidikan. Dalam pendekatan demikian, peserta didik diharapkan banyak memenuhi tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan lembaga pendidikan di tempat peserta didik tersebut berada. Asumsi pendekatan ini adalah, bahwa peserta didik akan dapat matang dan mencapai keinginannya, manakala dapat memenuhi aturan-aturan, tugas-tugas, dan harapan-harapan yang diminta oleh lembaga pendidikannya.

Wujud pendekatan ini dalam manajemen peserta didik secara operasional adalah: mengharuskan kehadiran secara mutlak bagi peserta didik di sekolah, memperketat presensi, penuntutan disiplin yang tinggi, menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Pendekatan demikian, memang teraksentuasi pada upaya agar peserta didik menjadi mampu.

  1. Pendekatan kualitatif (the qualitative approach).

Pendekatan ini lebih memberikan perhatian kepada kesejahteraan peserta didik. Jika pendekatan kuantitatif di atas diarahkan agar peserta didik mampu, maka pendekatan kualitatif ini lebih diarahkan agar peserta didik senang. Asumsi dari pendekatan ini adalah, jika peserta didik senang dan sejahtera, maka mereka dapat belajar dengan baik serta senang juga untuk mengembangkan diri mereka sendiri di lembaga pendidikan seperti sekolah. Pendekatan ini juga menekankan perlunya penyediaan iklim yang kondusif dan menyenangkan bagi pengembangan diri secara optimal.

Di antara kedua pendekatan tersebut, tentu dapat diambil jalan tengahnya, atau sebutlah dengan pendekatan padu. Dalam pendekatan padu demikian, peserta didik diminta untuk memenuhi tuntutan-tuntutan birokratik dan administratif sekolah di satu pihak, tetapi di sisi lain sekolah juga menawarkan insentif-insentif lain yang dapat memenuhi kebutuhan dan kesejahteraannya. Di satu pihak siswa diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas berat yang berasal dari lembaganya, tetapi di sisi lain juga disediakan iklim yang kondusif untuk menyelesaikan tugasnya. Atau, jika dikemukakan dengan kalimat terbalik, penyediaan kesejahteraan, iklim yang kondusif, pemberian layanan-layanan yang andal adalah dalam rangka mendisiplinkan peserta didik, penyelesaian tugas-tugas peserta didik.

(Dikutif dari Buku Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah oleh Prof. Dr. Ali Imron dan blog Akhmad Sudrajat)

2.4  Layanan Khusus yang Menunjang Manajemen Peserta Didik

  1. Layanan Bimbingan dan Konseling

Dalam PP No. 28 tahun 1990 tentang pendidikan dasar dan PP No. 29 tahun 1990 tentang pendidikan menengah digunakan istilah bimbingan. Pengertian bimbingan menurut PP. No. 29 tahun 1990 Bab X pasal 27, yaitu bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan. Bimbingan diberikan oleh guru pembimbing. Menurut Hendyat Sutopo bimbingan adalah proses bantuan yang diberikan kepada siswa dengan memperhatikan kemungkinan dan kenyataan tentang adanya kesulitan yang dihadapi dalam rangka perkembangan yang optimal, sehingga mereka memahami dan mengarahkan diri serta bertindak dan bersikap sesuai dengan tuntunan dan situasi lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.

a. Fungsi bimbingan disekolah ada 3 yaitu :

  1. Fungsi penyaluran, yaitu membantu peserta didik dalam memilih jenis sekolah lanjutannya, memilih program, memilih lapangan pekerjaan sesia dengan bakat dan cita-citanya.
  2. Fungsi pengadaptasian, yaitu membantu guru atau tenaga edukatif lainnya untuk menyesuaikan program pengajaran yang disesuaikan dengan minat, kemampuan dan cita-cita peserta didik.
  3. Fungsi penyesuaian, yaitu membantu peserta didik dalam menyesuaikan diri dengan bakat, minat dan kemampuannya untuk mencapai perkembanagan yang optimal.

b. Tujuan dilakukannya bimbingan disekolah :

  1. Mengembangkan pengertian dan pemahaman diri
  2. Mengembangkan pengetahuan tentang jenjang pendidikan dan jenis pekerjaan serta persyaratannya
  3. Mengembangkan pengetahuan tentang berbagai nilai dalam kehidupan keluarga dan masyarakat
  4. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah
  5. Mengembangkan kemampuan merencanakan masa depan dengan bertolak pada minat, bakat dan kemampuannya
  6. Mengatasi kesulitan dalam memahami dirinya, lingkungannya, dan berbagai nilai
  7. Mengatasi kesulitan dalam menyalurkan minat dan bakatnya dalam perencanaan masa depan baik yang menyangkut pendidikan maupun pekerjaan maupun pekerjaan yang tepat
  8. Mengatasi kesulitan dalam belajar dan hubungan sosial
  1. Layanan Perpustakaan

Perpustakaan merupakan salah satu unit yang memberikan layanan kepada peserta didik, dengan maksud membantu dan menunjang proses pembelajaran di sekolah, melayani informasi – informasi yang dibutuhkan serta memberikan layanan rekreatif melalui koleksi bahan pustaka.

Perpustakaan sekolah merupakan perangkat kelengkapan pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Keberadaan perpustakan di sekolah sangatlah penting. Perpustakaan sekolah sering disebut sebagai jantungnya sekolah, karena menjadi denyut nadi proses pembelajaran disekolah adalah perpustakaan. Perpustakaan juga dipandang sebagai kunci bagi ilmu pengetahuan dan inti setiap proses pembelajaran di sekolah.

a. Tujuan perpustakaan sekolah :

  1. Mengembangkan minat, kemampuan dan kebiasaan membaca khusunya serta mendayagunakan budaya tulisan.
  2. Memdidik peserta didik agar mampu memelihara dan memanfaatkan bahan pustaka secara efektif dan efisien
  3. Meletakkan dasar kearah belajar mandiri
  4. Memupuk minat dan bakat
  5. Mengembangkan kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari atas usaha dan tanggung jawab sendiri.

b. Fungsi perpustakaan sekolah sebagai pelengkap pendidikan, yaitu :

  1. Menyerap dan menghimpun informasi guna kegiatan belajar mengajar
  2. Menyediakan sumber-sumber rujukan yang tepat untuk kegiatan konsultasi bagi peserta dan pendidik
  3. Menyediakan bahan-bahan yang bermanfaat bagi kegiatan rekreatif yang berkaitan dengan bidang budaya dan dapat meningkatkan selera mengembangkan daya kreatif
  4. Melaksanakan layanan perpustakaan yang sederhana, mudah dan menarik sehingga pendidikan peserta didik tertarik dan terbiasa dalam menggunakan fasilitas perpustakaan.

Ada tiga jenis layanan perpustakaan sesuai dengan sasaran yang ditujunya, yaitu :

  1. Layanan kepada guru, meliputi kegiatan berikut :
  • Meningkatkan pengetahuan guru mengenai subjek yang menjadi bidang
  • Membantu guru dalam mengajar di kelas dengan menyediakan alat audio-visual dll
  • Menyediakan bahan pustaka pesanan yang diperlukan mata pelajaran tertentu
  • Menyediakan bahan informasi bagi kepentingan penelitian yang diperlukan oleh guru dalam rangka mengingkatkan profesinya
  • Untuk SD menyediakan jam bercerita, pembacaan buku, dan permainan boneka
  • Mengisi jam yang kosong
  1. Layanan kepada peserta didik, meliputi :
  • Menyediakan bahan pustaka yang memperkaya dan memperluas cakrawala kurikulum
  • Menyediakan bahan pustaka yang dapat membantu peserta didik memperdalam pengetahuannya mengenai subjek yang diminatinya
  • Menyediakan bahan untuk meningkatkan keterampilan
  • Menyediakan kemudahan untuk membantu peserta didik mengadakan penelitian
  • Meningkatkan minat baca peserta didik dengan cara mengadakan bimbingan membaca, bagaimana menggunakan perpustakaan, mengenalkan jenis-jenis koleksi, buku, bercerita, membaca keras, membuat isi ringkas, kliping dll.
  1. Layanan terhadap manajemen sekolah
  • Sebagai perangkat pendidikan di sekolah
  • Unit pelaksana teknis
  • Mata rantai dalam sistem nasional layanan perpustakaan
  • Sebagai perangkat pendidikan di sekolah, perpustakaan merupakan bagian integral dari sekolah. Perpustakaan berfungsi sebagai pusat belajar dan mengajar, pusat informasi, pusat penelitian sederhana dan rekreasi sehat. Sebagai unit pelaksana teknis di sekolah, perpustakaan sekolah dipimpin oleh seorang kepala perpustakaan yang di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala sekolah. Perpustakaan sekolah melaksanakan kegiatan teknis yang mencakup keadaan, pengolahan, penyusunan buku dan katalog. Sedangkan kegiatan layanan sirkulasi, layanan buku rujukan dan layanan baca.
  1. Layanan Kantin atau Cafetaria

Kantin atau warung sekolah diperlukan adanya di tiap sekolah supaya makanan yang dibeli peserta didik terjamin kebersihannya dan cukup mengandung gizi. Para guru diharapkan sekali-kali mengontrol kantin sekolah dan berkonsultasi dengan pengelola kantin mengenai makanan yang bersih dan bergizi. Peranan lain kantin sekolah yaitu supaya para peserta didik tidak berkeliaran mencari makanan keluar lingkungan sekolah.

Pengelola kantin sebaiknya dipegang oleh orang dalam atau keluarga karyawan sekolah yang bersangkutan, agar sega;a makanan yang dibuang di kantin tersebut terjamin dan bermanfaat badi peserta didik.

  1. Layanan Kesehatan

Layanan kesehatan di sekolah biasanya dibentuk sebuah wadah bernama usaha kesehatan sekolah (UKS). Usaha kesehatan Sekolah adalah usaha kesehatan masyarakat yang dijalankan di sekolah.

Sasaran utama UKS adalah untuk meningkatkan atau membina kesehatan murid dan lingkungan hidupnya. Program UKS adalah sbb :

  1. Mencapai lingkungan hidup yang sehat
  2. Pendidikan kesehatan
  3. Pemeliharaan kesehatan di sekolah

Gedung sekolah merupakan tempat para peserta didik belajar dan menghabiskan sebagian waktunya. Karena itu sekolah hemdaknya memenuhi persyaratan “School Plan”, misalnya gedung sekolah harus ditanami rumput, air yang bersih, WC tersedia dan memenuhi persyaratan serta dibersihkan setiap hari, ruangan kelas harus bersih dan nyaman. Inilah yang dimaksud dengan mencapai lingkungan hidup sekolah.

Peranan guru sangat besar dalam pendidikan kesehatan. Guru harus menegur peserta didiknya yang berpakaian dan berbadan kotor, sewaktu-waktu guru mengajak peserta didik untuk membersihkan lingkungan sekolah/kerja bakti. Pemeriksaan umum maupun khusus diadakan secara berkala. Sejak masuk kelas satu hari sudah mulai diajarkan hidup sehat, lingkungan sehat, pemberantasan penyakit, sehingga peserta didik terpelihara kesehatan jasmani dan rohaninya.

Penyelenggara UKS memerlukan kerja sama antara seluruh warga sekolah. Setiap warga sekolah hemdaknya menjalankan tugasnya sebaik-baiknya. Kepala sekolah dan guru sebagai penanggunag jawab umum, sedangkan peserta didik membantu pelaksaan UKS, dengan piket secaa bergiliran. Disamping itu penanggung jawab umum, hendaknya ada penanggung jawab bidang pendidikan kesehatan, bidang kebersihan lingkungan kelas sehat, bidang pemeliharaan (pemeriksaan/pemeliharaan) kesehatan dan penanggung jawab mengenai usaha-usaha yang dijalankan sekolah (misalnya : kantin sekolah, usaha berternak, bertelur dll).

  1. Layanan Transportasi Sekolah

Sarana angkutan (transportasi) bagi para peserta didik merupakan salah satu penunjang untuk kelancaran proses belajar mengajar. Para peserta didik akan merasa aman dan dapat masuk/keluar sekolah dengan waktu yang tepat. Transportasi diperlukan terutama bagi para peserta didik ditingkat prasekolah dan pendidikan dasar. Penyelenggaraan transportasi sebaiknya dilaksanakan oleh sekolah yang bersangkutan atau pihak swasta (misalnya dengan cara abodemen).

  1. Layanan Asrama

Manfaat asrama bagi peserta didik yaitu :

  • Tugas sekolah dapat dikerjakan dengan cepat dan sebaik-baiknya terutama jika berbentuk tugas kelompok.
  • Sikap dan tingkah laku peserta didik dapat diawasi oleh petugas asrama dan para pendidik
  • Jika diantara peserta didik mempunyai kesulitan (kiriman dari orang tua terlambat, sakit dsb) dapat saling membantu
  • Meringankan kecemasan orang tua terhadap putra-putrinya
  • Dapat juga merupakan salah satu cara untuk mengendalikan tingkah laku remaja yang kurang baik.

Manfaat asrama bagi pendidik/petugas asrama :

  • Mengetahui, memahami dan menguasai tingkah laku peserta didik, bukan hanya terbatas di sekolah tetapi juga di luar sekolah
  • Guru dapat dengan cepat mengontrol tugas yang diberikan kepada peserta didik.

2.5 Studi Kasus

Setiap tahun ajaran baru, sekolah disibukkan oleh kegiatan penerimaan siswa baru. Sebelum kegiatan ini dimulai, Kepala sekolah terlebih dahulu membentuk panitia berdasarkan pedoman dari Dinas Pendidik setempat. Panitia yang sudah dibentuk diformalkan dengan menggunakan Surat Keputusan (SK). Keputusan (SK) Kepala Sekolah. Susunan panitia sebagai berikut.

            Ketua              : Kepala Sekolah

            Sekretaris I      : Wakil kepala Sekolah Urusan Kesiswaan

            Sekretaris II    : Kepala TU

            Bendahara       : Bendahara Sekolah

            Anggota          : TU dan Guru (jumlah sesuai kebutuhan)

Setelah terbentuk panitia, langkah selanjutnya pembuatan pengumuman kepada masyarakat, agar para calon pendaftar mengatahui syarat-syarat memasuki sekolah tersebut. Berikut contoh pengumuman tersebut.

Kegiatan sekolah berikutnya adalah melaksanakan seleksi bagi calon siswa yang mendaftar di sekolah yang bersangkutan. Dari hasil seleksi ini ditentukan peserta didik yang diterima di sekolah tersebut. Biasanay ada tiga kebijakan sekolah dalam penentuan peserta didik yang diterima, yaitu peserta didik yang diterima, peserta didik yang cadangan untuk diterima dan peserta didik yang tidak diterima. Bagi peserta didik yang diterima langsung melakukan daftar ulang dan melengkapi persyaratan yang telah ditentukan sekolah.

Setelah peserta didik diterima pada suatu sekolah. Pihak sekolah mempunyai tanggung jawab untuk memberikan suatu program penyesuaian calon peserta didik kepada situasi sekolah mereka yang baru. Program ini yang disebut sebagai masa orientasi. Masa orientasi ini dilakukan dalam beberapa hari (biasanya di sekolah dilakukan dalam sepekan). Dalam orientasi ini diperkenalkan lingkungan fisik sekolah dan lingkungan sosial sekolah. Bahkan secara rinci orientasi ini memperkenalkan tata tertib sekolah, guru dan staf TU sekolah, perpustakaan sekolah, layanan khusus yang ada di sekolah, program studi di sekolah, cara belajar efektif dan efisien di sekolah, serta organisasi kesiswaan yang ada di sekolah.

Setelah siswa selesai mengikuti masa orientasi, dilakukan pembagian kelas. Pembagian kelas di sekolah biasanya menggunakan tipe kelas yang heterogen tanpa ada pertimbangan menempatkan kelas berdasarkan suku, nilai, agama maupun gender. Pembagian kelas ini tentu saja dibagi berdasarkan rasio dengan ruang kelas yang ada. Setelah terbentuk kelas, barulah peserta didik mengikuti program pembelajaran dalam bentuk mata pelajaran/bidang studi yang harus ditempuh oleh peserta didik selama di kelas tersebut. Di samping itu, siswa juga bisa mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi di sekolah yang sifatnya extrakulikuler dengan dilakukan di luar jam mata pelajaran.

Dalam proses pembelajaran ini dilakukan penilaian terhadap peserta didik. Penilaian ini dilakukan untuk melihat kemajuan peserta didik dan menentukan baik/tidak naik kelas berikutnya (bagi kelas satu atau dua), serta penentuan kelulusan bagi kelas tiga. Hasil penilaian yang dilakukan oleh pihak sekolah ini dilaporkan kepada orang tua/wali siswa. Laporan kepada orang tua tersebut lazim disebut buku raport. Sedangkan siswa yang lulus dari sekolah diberikan Ijazah/STTB.

2.6 EVALUASI KEGIATAN PESERTA DIDIK

Menurut Wand dan Brown (dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2002;57), evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Evaluasi hasil belajar peserta didik berarti kegiatan menilai proses dan hasil belajar siswa baik yang berupa kegiatan kurikuler, ko-kurikuler, maupun ekstrakurikuler.

Penilaian hasil belajar bertujuan untuk melihat kemajuan belajar peserta didik dalam hal penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajarinya sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Pasaribu dan Simanjuntak (dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2002;58), menyatakan bahwa :

Tujuan umum dari evaluasi peserta didik adalah :

  1. Mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan peserta didikdalam mencapai tujuan yang diharapkan
  2. Memungkinkan pendidik/guru menilai aktifitas/pengalaman yang didapat
  3. Menilai metode mengajar yang digunakan

Tujuan khusus dari evaluasi peserta didik adalah :

  1. merangsang kegiatan peserta didik
  2. menemukan sebab-sebab kemajuan atau kegagalan belajar peserta didik
  3. memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan danbakat siswa yang bersangkutanuntuk memperbaiki mutu pembelajaran/cara belajar dan metode mengajar.

Berdasarkan tujuan penilaian hasil belajar tersebut, ada beberapa fungsi penilaian yang dapat dikemukakan antara lain:

  1. Fungsi selektif

Dengan mengadakan evaluasi, guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap peserta didiknya. Evaluasi dalam hal ini bertujuan untuk : memilih peserta didik yang dapat diterima di sekolah tertentu, memilih peserta didik yang dapat naik kelas atau tingkat berikutnya, memeilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa, memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah, dan sebagainya.

  1. Fungsi diagnostik

Apabila alat yang digunakan dalam evaluasi cukup memenuhi persyaratan, dengan melihat hasilnya guru akan dapat mengetahui kelemahan peserta didik, sehingga lebih mudah untuk mencari cara mengatasinya.

  1. Fungsi penempatan

Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan peserta didik adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang peserta didik harus ditempatkan.

  1. Fungsi pengukur keberhasilan program

Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana sustu program berhasil diterapkan. Secara garis besar ada dua macam alat evaluasi, yaitu tes dan non tes. Dalam penggunaan alat evaluasi yang berupa tes, hendaknya guru membiasakan diri tidak hanya menggunakan tes obyektif saja tetapi juga diimbangi dengan tes uraian. Tes adalah penilaian yang komprehensif terhadap seorang individu atau keseluruhan usaha evaluasi program. Dalam suatu kelas, tes mempunyai fungsi ganda, yaitu untuk mengukur keberhasilan peserta didik dan untuk mengukur keberhasilan program pengajaran. Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur keberhasilan peserta didik, ada tiga jenis tes, yaitu :

  1. Tes diagnostik

Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan peserta didik sehingga berdasarkan kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat. Kedudukan diagnosis adalah dalam menemukan letak kesulitan belajar peserta didik dan menentukan kemungkinan cara mengatasinya dengan memperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar.

  1. Tes Formatif

Tes formatif atau evaluasi formatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah terbentuk setelah mengikuti suatu program tertentu. Jenis penilaian ini juga berfungsi untuk memperbaiki proses belajar mengajar.

  1. Tes Sumatif

Tes sumatif atau evaluasi sumatif dilaksanakan setelah berakhir pemberian sekelompok program atau pokok bahasan. Jenis penilaian ini berfungsi untuk menentukan angka kemajuan hasil belajar peserta didik. Hasil evaluasi terhadap peserta didik tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan memberikan umpan balik. Ada dua kegiatan dalam menindaklanjuti hasil penilaian peserta didik, antara lain :

  1. Program remedial

Dalam hal pengajaran remedial, kegiatan ini dilakukan dengan beberapa alasan, antara lain :

  • Masih banyak peserta didik yang menunjukkan belum dapat mencapai prestasibelajar yang diharapkan
  • Guru bertanggung jawab atas keseluruhan proses pendidikan, yang berartibertanggung jawab atas tercapainya tujuan pendidikan melalui pencapaianstandar kompetensi yang diharapkan.
  • Pengajaran remedial diperlukan dalam rangka melaksanakan proses belajar yangsebenarnya, yaitu sebagai proses perubahan tingkah laku secara keseluruhan.
  • Pengajaran remedial merupakan salah satu bentuk pelayanan bimbingan danpenyuluhan melalui interaksi belajar mengajar.Pengajaran remedial mempunyai arti terapeutik, maksudnya dalam proses pengajaran remedial secara langsung maupun tidak langsung juga menyembuhkan beberapa gangguan atau hambatan yang berkaitan dengan kesulitan belajar. Pengajaran remedial adalah suatu bentuk khusus pengajaran yang ditujukan untukmenyembuhkan atau memperbaiki sebagian atau keseluruhan kesulitan belajar yangdihadapi oleh peserta didik. Perbaikan diarahkan kepada pencapaian hasil belajaryang optimal sesuai dengan kemampuan masing-masing melalui perbaikankeseluruhan proses belajar mengajar dan keseluruhan kepribadian peserta didik. Pengajaran remedial merupakan salah satu tahapan kegiatan utama dalam keseluruhan kerangka pola layanan bimbingan belajar, serta merupakan rangkaian kegiatan lanjutan yang logis dari usaha diagnostik kesulitan belajar. Adapun langkah-langkah dalam pengajaran remedial, antara lain:
  1. Penelaahan kembali kasus dan permasalahannya
  2. Menentuakan alternative pilihan tindakan
  3. Melaksanakan layanan bimbingan dan penyuluhan/psikoterapi
  4. Melaksanakan pengajaran remedial
  5. Mengadakan pengukuran prestasi belajar kembali
  6. Mengadakan re-evaluasi dan re-diagnostik

Sasaran akhir kegiatan remedial identik dengan pengajaran biasa (pada umumnya) yaitu membantu setiap peserta didik dalam batas-batas normalitas tertentu agar dapat mengembangkan diri seoptimal mungkin sehingga dapat mencapai tingkat penguasaan atau ketuntasan tertentu, sekurang-kurangnya sesuai dengan batas kriteria keberhasilan yang dapat diterima. Secara empiric sasaran strategis tersebut tidak selamanya dapat dicapai dengan pendekatan sistem pengajaran secara konvensional, sehingga perlu dicari upaya pendekatan strategis lainnya. Ada dua strategi yang bisa dilakukan dalam pengajaran remedial, yaitu :

  1. Strategi dan pendekatan pengajaran yang bersifat kuratif

Tindakan ini dapat dikatakan kuratif apabila dilakukan setelah selesai program pembelajaran utama diselenggarakan. Hal ini dilakukan atas dasar bahawa ada seseorang atau beberapa orang atau keseluruhan peserta didik dapat dipandang tidak mampu menyelesaikan program proses belajar mengajar yang bersangkutan secara sempurna sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Pendekatan pengajaran yang dapat diterapkan, antara lain :

  • Pengulangan, dapat dilakukan pada setiap akhir jam pertemuan, pada setiap akhir unit (satuan bahan) pelajaran tertentu, dan pada akhir setiap satuanprogram studi (triwulan, semester, tahunan).Pelaksanaan layanan pengajaran remedial ini dapat diberikan dandiorganisasikan dengan cara :
  1. Perorangan (individual), apabila peserta didik yang memerlukan bantuanjumlahnya terbatas
  2. Kelompok (peer group), apabila terdapat sejumlah peserta didik yangmempunyai jenis/sifat kesalahan atau kesulitan bersama, bahkan bisa jugaterjadi dalam bidang studi tertentu dialami oleh peserta didik dalamsatu kelas secara keseluruhan.Waktu dan cara pelaksanaannya dapat diatur sedemikian rupa sesuai dengansituasi dan kondisi yang ada, seperti contoh di bawah ini :Diadakan pada jam pertemuan kelas biasa, apabila sebagian atau seluruhanggota kelas mengalami kesulitan yang serupa, dengan cara :bahan pelajaran dipresentasikan kembali dengan penjelasannya, diiadakan latihan/penugasan/soal kembali yang bentuknya sejenisdengan tugas soal terdahulu, diadakan pengukuran dan penilaian kembali untuk mendeteksi hasilpeningkatannya kea rah criteria keberhasilan yang diharapkan.
  3. Diadakan di luar jam pertemuan biasa, dengan cara : diadakan jam pelajaran tambahan pada hari, jam, tempat tertentuapabila yang mengalami kesulitan hanya seseorang/sejumlah pesertadidik tertentu (missal sore hari, sehabis jam pelajaran biasa, waktuistirahat, dan sebagainya), diberikan kembali dalam bentuk pekerjaan rumah dengan diperiksa kembali oleh guru hasil pekerjaannya, diadakan kelas remedial (khusus bagi peserta didik) yang mengalamikesulitan belajar tertentu, dengan cara : peserta didik laiun belajar dalam kelas biasa, sedangkan untukpeserta didik tertentu dengan mendapat bimbingan khusus dari guruyang sama atau guru yang telah ditunjuk sampai yang bersangkutanmencapai tingkat penguasaan tertentu sehingga dapat bersama-samalagi dengan teman sekelasnya.
  4. Diadakan ulangan secara total, apabila peserta didik yangbersangkutan prestasinya sangat jauh dari batas criteria keberhasilanminimal dalam hamper keseluruhan program (bidang studi), secarakonvensional disebut dengan tinggal kelas.
  5. Pengayaan dan pengukuhan

Layanan pengayaan ditujukan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar ringan. Materi program pengayaan dalam hal ini dapat bersifat :

Ekuivalen (horizontal) dengan PBM utama, sehingga bobot nilainyadapat diperhitungkan oleh peserta didik yang bersangkutan.

Suplementer saja terhadap program PBM utama, dengan tidakmenambah bobot nilai tertentu yang penting dapat meningkatkanpenguasaan pengetahuan atau keterampilan bagi peserta didik yangrelative lemah, dan memberikan dorongan serta kesibukan bagi pesertadidik yang cepat belajar untuk mengisi kelebihan waktunya dibandingdengan teman sekelasnya.Teknik pelaksanaannya dapat dengan cara :

  • Berupa tugas/soal pekerjaan rumah bagi peserta didik yang lambat belajar
  • Berupa tugas/soal yang dikerjakan di kelas pada jam pelajaran tersebutjuga (sementara peserta didik yang lain mengerjakan program PBMutama) bagi peserta didik yang cepat belajar.
  • Percepatan
  • Alternatif lain adalah memberikan layanan kepada kasus berbakat tetapimenunjukkan kesulitan psikososial atau ego emosional, dengan jalanmengadakan akselerasi atau promosi kepada program PBM utamaberikutnya yang lebih tinggi.
  1. Strategi dan pendekatan pengajaran yang bersifat preventif

Teknik layanan pengajaran yang digunakan adalah :

  • Layanan kepada kelompok belajar homogin
  • Layanan pengajaran individual
  • Layanan pengajaran secara kelompok dengan dilengkapi kelas khhusus remedial dan pengayaan 
  1. Strategi dan pendekatan pengajaran yang bersifat pengembangan

Dalam pengajaran remedial diperlukan adanya pengorganisasian proses belajar mengajar yang sistematis dalam bentuik sistem pengajaran berprograma, sistem pengajaran modul, dan sebagainya. Sasaran utama dari strategi ini adalah agar peserta didik dapat segera mengatasi hambatan atau kesulitan yang mungkin dialaminya selama melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan dalam pelaksanaan pengajaran remedial, antara lain:

  • Metode pemberian tugas
  • Metode diskusi
  • Metode tanya jawab
  • Metode kerja kelompok
  • Metode tutor teman sebaya
  • Pengajaran individual
  • Program pengayaan

Kegiatan pengayaan adalah kegiatan yang diberikan kepada peserta didikkelompok cepat sehingga peserta didik tersebut menjadi lebih kaya pengetahuan danketerampilannya atau lebih mendalami bahan pelajaran yang sedang merekapelajari. Tujuan dari kegiatan pengayaan adalah agar peserta didik yang sudahmenguasai bahan pelajaran lebih dahulu dari teman-temannya tidak berhenti perkembangannya, dengan mengisi waktu kelebihannya dengan melakukan strategi kegiatan pengayaan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

  1. kegiatan pengayaan yang berhubungan dengan topik modul pokok
  2. kegiatan pengayaan yang tidak berhubungan dengan topik modul pokok.

Kegiatan pengayaan untuk dapat efektif mencapai tujuan, maka perlu diadakankegiatan penilaian, melalui dua cara, yaitu :

  • digabungkan dengan nilai modul pokok, dihitung dalam satuan kredit atau bobot tertentu
  • dipisahkan dari nilai pokok sehingga terdapat dua nilai.

2.7 Mutasi Peserta Didik

Secara garis besar mutasi peserta didik diartikan sebagai proses perpindahan peserta didik dari sekolah satu ke sekolah yang lain atau perpindahan peserta didik yang berada dalam sekolah. Oleh karena itu, ada dua jenis mutasi peserta didik, yaitu :

  1. Mutasi Ekstern

Mutasi Ekstern adalah perpindahan peserta didik dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Perpindahan ini hendaknya menguntungksn kedua belah pihak, artinya perpindahan tersebut harus dikaitkan dengan kondisi sekolah yang bersangkutan, kondisi peserta didik, dan latar belakang orang tuanya, serta sekolah yang akan ditempati.

Adapun tujuan mutasi ekstern adalah :

a. Mutasi didasarkan pada kepentingan peserta didik untuk dapat mengikutipendidikan di sekolah sesuai dengan keadaan dan kemampuan peserta didikserta lingkungan yang mempengaruhinya.

b. Memberikan perlindungan kepada sekolah tertentu untuk dapat tumbuh danberkembang secara wajar sesuai dengan keadaan, kemampuan sekolah sertalingkungan yang mempengaruhinya.

  1. Mutasi Intern

Mutasi intern adalah perpindahan peserta didik dalam suatu sekolah. Dalam hal ini akan dibahas khhsus mengenai kenaikan kelas. Maksud kenaikan kelas adalah peserta didik yang telah dapat menyelesaikan program pendidikan selama satu tahun, apabila telah memenuhi persyaratan untuk dinaikkan, maka kepadanya berhak untuk naik kelas berikutnya. Seorang peserta didik dinyatakan naik kelas apabila telah memenuhi persyaratan :

  1. Tidak terdapat nilai mati
  2. Program pendidikan umum rata-rata nilai sekurang-kurangnya 6,0. Boleh ada 2 nilai yang kurang dari 6,0 asal bukan pendidikan agama dan pendidikanpancasila dan kewrganegaraan.
  3. Program pendidikan akademis rata-rata nilai sekurang-kurangnya 6,0. Boleh ada2 nilai yang kurang dari 6,0 asal bukan bahasa Indonesia.
  4. Program pendidikan keterampilan rata-rata nilai sekurang-kurangnya 6,0 danboleh ada 1 nilai yang kurang dari 6,0.

Mengingat betapa pentingnya kenaikan kelas ini, maka setiap akhir semester sekolah selalu mengadakan rapat kenaikan kelas yang dihadiri oleh kepala sekolah dan dewan guru. Dalam hal ini peran wali kelas sangat menentukan naik tidaknya peserta didik dalam kelas tertentu. Di samping nilai akhir mata pelajaran, ada beberapa faktor yang dapat menentukan seorang peserta didik berhasil atau tidak untuk naik kelas, antara lain :

  • Kerajinan
  • Kedisiplinan
  • Tingkah laku

Dalam rapat kenaikan kelas ini dibicarakan juga tentang peserta didik yang nyaris tidak naik kelas, sehingga perlu mendapat pertimbangan dari berbagai pihak dan juga peserta didik yang terpaksa tidak naik kelas. Kepada peserta didik ini masih diberi kesempatan untuk mengulang kelas atau pindah ke sekolah lain. Dispensasi bagi peserta didik yang mengulang diberikan untuk kepentingan peserta didik dan sekolah.

Bagi peserta didik :

  • Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyesuaikan diri dengan sekolahyang baru
  • Dapat belajar lebih intensif
  • Karena malu, ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk naik kelas

Bagi sekolah : dispensasi bagi peserta didik yang mengulang akan memberikan nilai tambah minimal dari segi ekonomi.

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/BUKU%20manaj%20SISWA.pd 

Bab III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Manajemen peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah.  Knezevich (1961) mengartikan manajemen peserta didik atau pupil personnel administration sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individual seperti pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah.

3.2  Saran

Sebagai guru, kita harus paham tentang manajemen peserta didik, sehingga dapat mempermudah guru dan murid serta masyarakat sekolah dalam proses belajar mengajar. 

Teaching English through Story-telling, Song and Games

CHAPTER I

INTRODUCTION

1.1  Background

Inspired from some researches about teaching and learning English as a second and foreign language, especially in listening skill, there are some obstacles faced by students and teachers. The obstacles are such as using unsuitable methods by the teachers and lack of motivation from the students. Problem existing in students’ poor mastery of English listening skill is most of they have very short attention span and lack of motivation. The teachers have to find the suitable methods to motivate the students in order to make them interest in learning English. So, the goal of teaching listening is hoped can be reached.

As we know we can speak sensibly only if we understand what is said. In fact, people cannot talk if they cannot hear other people’s talk. That simply means there is not enough language input and there is no output. No deaf person can speak clearly because he cannot hear clearly.

Furthermore, listening skill is one of the basics of learning languages and acquiring them is very important in language learning. Moreover, with the development of high technology, we more and more rely on our ears to get information. There is no doubt that the speed of getting information is faster through listening than reading. Thus, it is crucial to improve the level of listening comprehension of the students. As a foreign language, English has four skills (reading, listening, writing, and speaking) that have to be mastered by the students. From these skills, listening is a skill that felt difficult to be mastered, because it needs more attention and concentration to comprehend the sounds (listening material). It can be said that listening is not a passive skill; the process of listening is a complex process in which many things happen simultaneously inside the mind.

It is better to look for good method in teaching listening. We can use some activities that can stimulate the students to improve their listening skill. The activities such as listen to English songs, playing games, and using story. When listening, students can write the vocabularies that appear on the particular topic. In listening English songs, students can listen to the pronunciation of words and sing along with the songs. Using storytelling in early age aims to make a student able to listen carefully what the speaker say, a student can ask anything, then they can express their mind. Listening skills are essential for students to be effective learners. Although some children might be better listeners than others, all students can benefit from activities and games that enhance and improve these skills. Teachers can help students practice and reinforce their listening abilities daily in the classroom. Storytelling and songs can be implemented through the games. Improve listening skill by using songs, games and stories so that the lessons can be understood and implemented gradually.

1.2 Theories

Listening is the receptive use of language, and since the goal is to make sense of the speech, the focus is on meaning rather than language (Cameron 2001). Sarıçoban (1999) states that listening is the ability to identify and understand what others are saying.

1.3 Purpose The Writing

  1. To fulfill one of the assignment of English for Young Learner subject
  2. To knowing how to teach English, especially in listening skill for young learners through songs, games and stories.

CHAPTER II

CONTENT 

2.1 Teaching Listening Through Song

Song nothing can be as effective as song in children’s language class. When children do not pay attention to boring instructions in a language class as they are unaware of the significance of learning a language they learn a language very naturally if they enjoy what they are doing in the class. Children have a natural taste for song and because of that English language teachers around the world use such enjoyable and supportive means for children to improve listening skill. Songs being a source of motivation, interest and enjoyment, it is much easier for children to imitate and remember language than words which are just ‘spoken’. Again, a song can be used very effectively to teach children the sounds and rhythm of the language and to reinforce structures and vocabulary. Moreover songs contain words and expressions of high frequency and offer repetition. The stress and intonation pattern of the spoken language can be taught through songs.

Song is also a great language package that bundles culture, vocabulary, listening, grammar and a host of other language skills in just a few rhymes. Songs can also provide a relaxed lesson on a hot boring day. Almost everyone loves songs. It is a part of our language and life from before birth onwards. As a baby, we often hear our mother and father sing a song to deliver us sleep in the bedroom. When young children, we play, sing, and dance to a rhymes. As adolescents, we are consumes by the beat of popular songs artist in the world. As adults, we often hear song on television, movies, theater, and even nightly news. When we work, when we play, song is there to reinforce or every mood and emotion.

From explanation above, we are suggested to include songs in language learning as well. Songs had heard by the people in the world since they are born until died. So, listening to the songs has been a habitual and liked by everybody. Beside of that, by songs we can provide a relaxed lesson on a hot boring day.

The important thing about choosing a song to do with a class is to make sure that the lyrics are clear. It can be very frustrating for the students not to understand a word. Furthermore, M. Lynch (2008), provides three principal song selection criteria, they are:

  1. Use songs that are popular with the students whenever possible. Unfortunately, students frequently select songs for classroom use which are objectionable in some way making the song unusable.
  2. Songs must have clear and understandable lyrics. Nothing is worse than a song almost nobody can understand. If you have trouble understanding the lyrics by listening, then another song needs to be selected.
  3. Songs should have an appropriate theme. There’s enough bad news, negativity and violence in the world already. Songs with any type of negative theme should be avoided. There are plenty of positive, upbeat, even humorous songs available.

 

The activites for Teaching Listening Through Songs :

  1. A.  Lesson plan for listen and do songs

Before you start teaching any song, as cer­tain that the classroom CD player is ready for use and that every student can hear equally well. If you are going to use handouts, distrib­ute them to the students but tell them not to read the lyrics until after the first listening. If you are using a textbook, tell the students the page number. If you do not have a textbook or access to a photocopier, you may write the lyrics on the board or on a poster before you start.

  1. B.  Stage 1 : Pre-teaching activities

According to Davies and Pearse (2000), this stage is useful to prepare the learners for what they are going to hear, just as we usually prepare for real-life situations. Important points to consider for this stage are as follows:

  • To get the students interested in the topic of the song and to warm them up, you can show a picture or other reality related to the song and ask the students what they think the song is about. Tol­erate some native language use, as these are young learners and beginners.
  • Next, read the title of the song aloud, and explain it through actions and visuals.
  • Ask the students if they already know any words in English related to the title of the song. On the board, write any English words that the students mention.
  • Finally, explain the unknown vocabu­lary from the song through actions and visuals. There are usually very colorful pictures in young learners’ books, and it is time-saving to make use of them.
  1. C.  Stage 2: While-teaching activities

This stage is useful to help the learners understand the text through activities. As pointed out earlier, one advantage of listen and do songs is that students are active as they are listening. However, do not expect your students to learn the song and the accompanying actions in the first listening. They will need to listen to the song a few times. Here are the activities while

  • First listening. The aim of the first listen­ing, as pointed out by Harmer (1991), is to give students an idea of what the listening material sounds like. Let the students listen to the song without any interruptions so that they will have an opportunity to hear the music and the lyrics. This may also be termed free listening. This activity quite beneficial and motivating for the students, and they express positive feelings about free listening. After the free listening, tell the stu­dents to look at the lyrics of the song (from the handout, textbook, board, or poster), since this is probably the best time to let stu­dents see and read the lyrics. (If the students read the lyrics before the first listening, they may try to read along and not concentrate.) Next, read the lyrics of the song aloud and ask the students to listen and follow from the handout. Finally, read the lyrics aloud line by line and ask the students to repeat every line aloud. After completed the repetition phase, use the actions for the song. Read every line aloud, demonstrate the associated actions, and ask the students to do the same actions. The following well-known song, “Head, Shoulders, Knees, and Toes” teacher can illustrates the activity. At this stage, it is the responsibility of the teacher to ascertain that each student understands the vocabulary and actions in the song and that they can do the actions when they are asked. It is for the teacher to decide whether to do extra repetitions. Students may say they understood everything because they want to proceed to the next stage right away. To check student understanding, randomly name the vocabulary that you have taught and ask the students to do the accompanying actions.
  • Second listening. Play the song again and guide the students both by singing and doing the actions that you have already taught. This time, ask the students to just listen and do the actions under your guidance. Hearing the teacher sing the song and seeing the teacher do the actions help students overcome feelings of shyness and lack of confidence. Besides, stu­dents find it funny and interesting when they see their teacher doing the actions to a song. This situation motivates the stu­dents and prepares them for the third listen­ing, where they will be asked to sing the song.
  • Third listening. This is the stage when stu­dents are asked to sing the song along with the CD or the teacher line by line. As a teacher, check for correct intonation of language—not music—and pronunciation, and do some remedial work on any problematic intonation or pronunciation.
  • Fourth listening. Ask the students to sing the complete song along with the CD and join in the singing yourself. Also, ask the students to do the accompanying actions.
  1. D.  Stage 3: Post-teaching activities

This stage is generally accepted as the stage when the teacher moves on from listen­ing practice to focus on other language skills such as reading, speaking, and writing.

By using songs in the classroom, students can practice their listening skills and increase their cultural knowledge. Almost any song can be used in the ESL classroom. The pronunciation and rhythm lessons are the same as for the children’s songs and the lessons may help students become more interested in different types of songs. Practicing lyric reading, studying the vocabulary, and listening to various songs can help students become more familiar with popular songs and make them more confident in their ability to listen and understand the world around them (Brown, 2006).

 

2.2    Teaching Listening Through Games

Games Just like songs, games also provide wonderful atmosphere in the children’s language class. It is widely documented that English language games improve learning, and with children, they are one of the most effective classroom tools. The first reason why games are so useful is that since games make learning fun, children are willing participants and are not just present in class because they have to be. Students pay more attention because when they enjoy themselves, they do better, feel better about themselves, and do even better – it is a learning cycle working in their favor. Next reason is playing a game has a purpose and an outcome. In order to play, students have to say things. Therefore, they have a reason to communicate and this makes them want to know and learn more. In addition to this, games stimulate and  motivate children to a new level. They know that if they do not pay attention, they will not be able to play the game well and they will let their team down so they make more effort to join  and learn as much as possible.

The proverb ‘repetition is the mother of skill’ becomes very meaningful during the games in children’s language class as students get to use the language all the time with a lot of repetition. Although repetition is boring in some cases, during games it is fun for children. Also because of the fun involved in the game a massive amount of vocabulary and grammar can be revised in a short time because it is very difficult for learners to remember vocabulary if they never use it. Furthermore, the physical movement involved in some of the games also helps keep children stimulated and alert. Children naturally have a lot of energy and are not good at attending formal lessons for long periods, and so if they participate in a game involving physical movements from time to time, they will never get impatient and bored. Most importantly, the philosophy of encouragement in corporated into these games increases confidence in all students. Usually this does not just mean they get better at only English, but in all subjects in school. This in turn makes the teachers more motivated and optimistic, and they can really make a difference in their lesson.

In this context before that listen and do songs are suitable for implemented through the games activities. Some suggested examples follow :

  • Depending on the number of stu­dents, divide the class into two or three groups. Assign a part of the song to each group, then ask the groups to sing along with the CD and at the same time do the actions. Total Physical Response songs in general are suitable for class, group, or individual competitions, so you may wish to turn this song into a competi­tion by assigning points to every cor­rect pronunciation and action. This game is greatly enjoyed by the majority of students.
  • As an alternative to the above activity, the following game may be played: choose two students and call them to the front. Then give commands randomly related to the song and reward the quickest correct action with applause by the class. The following description illustrates this activity: The teacher says “knees,” and the students are expected to touch or point to their knees. The quickest student to touch or point to his or her knees wins a point and is applauded by the class. The song, and again the student who is quickest to do the appropriate action gets a point. This game becomes even more fun if the teacher lets the stu­dents in the class give the commands. Besides, if students “take over” in this way, the activity is not always centered on the teacher, and consequently there is more room for student practice.
  • The same game may be played as a whole class as well. The teacher ran­domly gives commands, and any stu­dent to do an incorrect action is taken out of the game. The last remaining student is announced as the winner.
  • To foster students’ writing skills, the teacher sticks a picture, or several pictures, on the board and asks dif­ferent students to come up and write what the picture shows. For example, put a picture or drawing of a human body on the board for the song “Head, Shoulders, Knees, and Toes” and draw arrows linked to the head, shoulders, knees, toes, eyes, ears, mouth, and nose. Next, I teach the structure “I have _____” and write an example sentence on the board (e.g., “I have brown eyes”). Then I name an item (e.g., ears) and call a student to the board. The student first has to write the word ears in the blank line. Then, the student has to write a sen­tence using the “I have _____” struc­ture. (“I have two ears.”) It is a good idea at this point to help your students write the sentences and ask the other students both to help and to copy the sentences from the board.

2.3 Teaching Listening Through Stories

Stories are very important for children in learning their mother tongue, and they are important in learning any foreign language as well. That is why it is good to start using stories in teaching English as soon as possible. Primary school “children enjoy listening to stories over and over again. This frequent repetition allows certain language items to be acquired while others are being overtly reinforced. Many stories contain natural repetition of key vocabulary and structures. This helps children to remember every detail, so they can gradually learn to anticipate what is about to happen next in the story. Repetition also encourages participation in the narrative”.

Stories are very motivating, challenging and great fun for children. They can help develop positive attitudes towards the foreign language, culture and language learning. By using stories allows the teacher to introduce or revise new vocabulary and sentence structures by exposing the children to language in varied, memorable and familiar contexts, which will enrich their thinking and gradually enter their own speech. “Listening to stories helps children become aware of the rhythm, intonation and pronunciation of language”. Stories also provide opportunities for developing continuity in children’s learning. They can link English with other subject areas across the curriculum.

When children listen to stories in class they share social experience, it “provokes a shared response of laughter, sadness, excitement and anticipation which is not only enjoyable but can help to build up the child’s confidence and encourage social and emotional development”. Stories are a useful tool in linking fantasy and the imagination with the child’s real world. They provide a way of enabling children to make sense of their everyday life and forge links between home and school. Children exercise their imagination through stories. They “can become personally involved in a story as they identify with the characters and try to interpret the narrative and illustrations. This imaginative experience helps students develop their own creative potential.

The activites for Teaching Listening Through Stories :

Pre-storytelling activities are important because they introduce the topic, they motivate the students to read or listen to a story, they provoke initial interest in the topic, students start to think about it, they prepare their minds and show what they know about it. These activities help teacher anticipate problems in terms of language and concepts and give space to pre-teach complicated language. Warming up activities relax students. For example an informal chat can build up and maintain good relation between a teacher and students. Questions that introduce the topic are good to use, but not too many. Or students can guess the title of the topic of the lesson. We can show students a picture or watch a video extract to provoke they interest.

After the pre-storytelling activities, when the teacher has already involved students in the lesson, s/he can start telling or reading the story. “The students must hear everything loudly and clearly. The teacher’s voice should be pleasant, intimate, smooth, low-pitched, varied if possible for different characters since all this will add to the emotional impact of the story. Telling or reading the story the teacher might like to see if the learners understand the language of the story. S/he can just stop for a moment and ask pupils what is going to happen next. This way the teacher checks their understanding and makes them thinking about the narration.

When telling or reading the story has already finished, it’s time for teacher not to relax but to offer the children some very important activities. It was said that one of the most considerable quality of stories in learning process is that they are real fun for young learners. The teacher can ask the children yes/no or wh-questions. The young learners also may be asked to decide if some statements are true or false. Very useful for a comprehension check are the matching activities; for example “matching characters with phrases they have said, things they have done or qualities they possess”

ll these pre, while and post- storytelling activities, mention above (and there are much more others possible to use), help the children to understand the story fully, to gain more confidence in used English vocabulary and grammar structures, to become completely aware with the main points of what was told or read from the teacher and this way to be able to retell it; after precise re-construction in their minds. Students even are encouraged to create their own stories. This way the used in the lesson story really is a bridge, connecting language study and language use and is a source of confidence in understanding and speaking English – something that without doubt will be very useful for the students in their lives outside the classroom.

CHAPTER III

CONCLUSION

3.1 Conclusion

listening skill is one of the basics of learning languages and acquiring them is very important in language learning. It is better to look for good method in teaching listening. We can use some activities that can stimulate the students to improve their listening skill. The activities such as listen to English songs, playing games, and using story. When listening, students can write the vocabularies that appear on the particular topic. In listening English songs, students can listen to the pronunciation of words and sing along with the songs. Using storytelling in early age aims to make a student able to listen carefully what the speaker say, a student can ask anything, then they can express their mind. Listening skills are essential for students to be effective learners. Although some children might be better listeners than others, all students can benefit from activities and games that enhance and improve these skills. Teachers can help students practice and reinforce their listening abilities daily in the classroom. Improve listening skill by using songs, games and stories so that the lessons can be understood and implemented gradually. 

REFERENCES

www.google.com

 http://my.englishclub.com

www.wikipedia.com

http://www.ebooks.com

Cognitive Variable

The Cognitive Variable

By Hobie Anthony, eHow Contributor

http://www.ehow.com/info_8654319_cognitive-variables.html

Cognitive variables are means people use every day to process information. These variables are used to describe why one person is lacking in artistic ability, yet exhibits high competence in a specific area, such as electronics. Each person seems to have these variables in differing degrees, and scientists seek correlations between the variables, perhaps hoping to see if one might cause or add to another.

One of the three areas considered to make up the INDIVIDUAL DIFFERENCES between learners which influence the degree of success in foreign language learning is the cognitive area. The main cognitive variables are INTELLIGENCE and APTITUDE, but MEMORY is often also included, as is the ability to utilize general learning mechanisms.

Ques­tion:
Are cog­ni­tive abil­i­ties the same thing as intelligence?

Key Points:

  • Cog­ni­tive abil­i­ties can be trained and improved.
  • Intel­li­gence is a score on a test that stays rel­a­tively sta­tic in adulthood.
  • Cog­ni­tive processes deal­ing with nov­elty (fluid intel­li­gence) are just as impor­tant as acquired knowl­edge (crys­tal­lized intel­li­gence). It takes both to keep your mental edge.

Answer:
Not exactly. They are related and inter­twined, but not the same thing.

Cog­ni­tive abil­i­ties are the brain-based skills and men­tal processes needed to carry out any task and have more to do with the mech­a­nisms of how you learn, remember, and pay atten­tion rather than any actual knowl­edge you have learned.

The term IQ, or Intel­li­gence Quo­tient, gen­er­ally describes a score on a test that rates your cog­ni­tive abil­ity as com­pared to the gen­eral pop­u­la­tion. IQ tests are designed to mea­sure your gen­eral abil­ity to solve prob­lems and under­stand concepts. There is a high pos­i­tive cor­re­la­tion between IQ and suc­cess in school and the work place, but there are many, many cases where IQ and suc­cess do not coincide.

Because IQ tests attempt to mea­sure your abil­ity to under­stand ideas and not just the quan­tity of your knowl­edge, learn­ing new infor­ma­tion does not auto­mat­i­cally increase your IQ. Intel­lec­tual abil­ity seems to depend more on genetic fac­tors than on environmen­tal fac­tors, but most experts agree that envi­ron­men­tal enrich­ment plays some signif­i­cant role in its development.

For the most part, adult IQ scores don’t sig­nif­i­cantly increase over time. There is evidence that main­tain­ing an intel­lec­tu­ally stim­u­lat­ing atmos­phere (by learn­ing new skills or solv­ing puz­zles, for exam­ple) boosts cog­ni­tive abil­ity, sim­i­lar to the way maintain­ing an exer­cise reg­i­men boosts phys­i­cal abil­ity, but these changes do not neces­sar­ily have much effect on IQ scores.

In science, cognition is group of mental processes that includes attentionmemory, producing and understanding languagelearningreasoningproblem solving, and decision making. Various disciplines, such as psychology, philosophy, linguistics, and computer science all study cognition. However, the term’s usage varies across disciplines; for example, in psychology and cognitive science, “cognition” usually refers to an information processing view of an individual’s psychological functions. It is also used in a branch of social psychology called social cognition to explain attitudesattribution, and groups dynamics. In cognitive psychology and cognitive engineering, cognition is typically assumed to be information processing in a participant’s or operator’s mind or brain.

Cognition is a faculty for the processing of information, applying knowledge, and changing preferences. Cognition, or cognitive processes, can be natural or artificial, conscious or unconscious. These processes are analyzed from different perspectives within different contexts, notably in the fields of linguistics,anesthesia,neurology and psychiatry, psychology,philosophy,anthropology,systemics, and computer science. Within psychology or philosophy, the concept of cognition is closely related to abstract concepts such as mindintelligence. It encompasses the mental functionsmental processes (thoughts), and states of intelligent entities (humans, collaborative groups, human organizations, highly autonomous machines, and artificial intelligences).

Origins of Cognition

Attention to the cognitive process came about more than twenty-three centuries ago, beginning with Aristotle and his interest in the inner-workings of the mind and how they affect the human experience. Aristotle focused on cognitive areas pertaining to memory, perception, and mental imagery. The Greek philosopher found great importance in ensuring that his studies were based on empirical evidence; scientific information that is gathered through thorough observation and conscientious experimentation. Centuries later, as psychology became a blooming study in Europe and then gaining a following in America, other scientists like Wilhelm Wundt, Herman Ebbinghaus, Mary Whiton Calkins, and William James, to name a few, would offer their contributions to the study of cognition.

Wilhelm Wundt (1832-1920) heavily emphasized the notion of what he called introspection; examining the inner feelings of an individual. With introspection, the subject had to be careful to describe their feelings in the most objective manner possible in order for Wundt to find the information scientific. Though Wundt’s contributions are by no means minimal, modern psychologists find his methods to be quite subjective, and choose to rely on more objective procedures of experimentations to make conclusions about the human cognitive process.

Herman Ebbinghaus (1850-1909) conducted cognitive studies mainly examined the function and capacity of human memory. Ebbinghaus developed his own experiment in which he constructed over 2,000 syllables made out of nonexistent words, for instance EAS. He would then examine his own personal ability to learn these non words. He purposely chose non words as opposed to real words to control for the influence of pre-existing experience with what the words may symbolize, thus enabling easier recollection of them. Ebbinghaus observed and hypothesized a number of variables that may have affected his ability to learn and recall the non words he created. One of the reasons he concluded was the amount of time between the presentation of the list of stimuli. His work heavily influenced the study of serial position and its affect on memory, discussed in subsequent sections.

Mary Whiton Calkins (1863-1930) was an influential American female pioneer in the realm of psychology. Her work also focused on the human memory capacity. A common theory, called the Recency effect, can be attributed to the studies that she conducted. The recency effect, also discussed in the subsequent experiment section, is the tendency for individuals to be able to accurately recollect the final items presented in a sequence of stimuli. Her theory is closely related to the aforementioned study and conclusion of the memory experiments conducted by Herman Ebbinghaus.

William James (1842-1910) is another pivotal figure in the history of cognitive science. James was quite discontent with Wundt’s emphasis on introspection and Ebbinghaus’ use of nonsense stimuli. He instead chose to focus on the human learning experience in everyday life and its importance to the study of cognition. James’ major contribution was his textbook Principles of Psychology that preliminarily examines many aspects of cognition like perception, memory, reasoning, and attention to name a few.

Some functions of Cognitive Variable, such as :

  • Metacognition as knowledge of ways to thinking, thought structures and the capacity to control and modify cognitive learning process
  • Systematized general and specific knowledge
  • Understanding the language of science and the humanities
  • Retention of knowledge
  • Transfer of knowledge : trans-disciplinary and interdisciplinary approaches.
  • Transfer of skill : practical application of knowledge
  • Capacity for generalization and discrimination of contents
  • Capacity for symbolic and abstract exchange
  • Capacity to develop concept and categories
  • Development of imagination to stimulate objects and processes
  • Capacity to formulate problems and take decisions to solve them
  • Capacity to search for and process information
  • Capacity to evaluate information to reduce uncertainty
  • Knowledge of the value of making mistakes as an aid to rectification
  • Capacity to grasp the whole and act on the parts

There are three of main cognitive variables, such as :

By Hobie Anthony, eHow Contributor

http://www.ehow.com/info_8654319_cognitive-variables.html

 1.   Semantic and Episodic Memory

“Memory” is the storage of information and past experiences for the purpose of present-day application or use. In semantic memory, an individual relies on schemes to order his memories so as to make sense of himself and others. This occurs through language, which gives memories meaning or semantic importance. “Episodic memory” refers to events in a person’s life that are retold as narratives. Episodic memories coalesce to form semantic memories. For instance, one’s college career may be related in a series of episodes that are synthesized into a semantic whole, or meaning

2.   Intelligence

Intelligence is often measured in terms of the Intelligence Quotient, or IQ. IQ is a measure of your ability to solve problems and understand concepts. There is a strong correlation between having a high IQ and academic success. Intelligence is considered separately from knowledge, as the acquisition of facts does not necessarily indicate an ability to apply the concepts or use them in a problem-solving context. There is debate as to whether genetics or environment affect IQ more, but it does appear to remain steady as a person ages.

3.   Aptitude

“Aptitude” generally refers to an individual’s verbal, numerical or abstract reasoning skills. For the sake of practical application, aptitude refers to a person’s ability to learn or adapt certain new skills. For instance, a potential surgeon may be tested for cognitive knowledge and psychomotor ability, two areas deemed pertinent to the career of a surgeon. Others may exhibit strengths in different aptitudes, as aptitudes are seen as distinct and independent of one another.

Cognitive Style

By Hobie Anthony, eHow Contributor

http://www.ehow.com/info_8654319_cognitive-variables.html

People have different ways in which they acquire and process information, methods collectively called cognitive style. Cognitive style is considered a stable part of a person’s personality, as it forms the basis of how he interacts with his world, both in thought and action. For instance, some may have a holistic style, which sees tasks in a broad perspective to gain an overview and context. Others may exhibit a serialistic style, which sees tasks and arguments in terms of their steps. With a narrow focus, serialists break down each step of an argument or task, seeking to avoid wasteful redundancies.

How to Improve Cognitive Ability

Cognitive ability is the mental process that the brain uses to carry out a task. When we get up in years our cognitive abilities diminish. The good news is that we can slow it down if we choose to make the effort to do so. Otherwise, time will take its toll and the mind will lose much of its ability to function on the level we want it to. The mind, much like the body, needs activity to keep it from going down hill before it’s time.

Instructions

  • To keep cognitive ability from diminishing we need to make our brain work. In order for this to happen we must make ‘brain work’ a priority or habit. The way the brain learns is by repetition sort of like programming. Once programmed the mind will do what it knows to do. Make use of your brain as you do mindless tasks such as washing the car or fishing. You can do this by listening to educational or motivational tapes. Carry tapes with you wherever you go and listen to them when the opportunity arises.
  • Stay creative by taking a class or doodling with a hobby. The mind loves to create things your job is to find out what it is yours wants to create. Creative projects are great for brain development. Do some research to get ideas and then be proactive and make it happen. Be social and meet new people. One of the ways we lose cognitive ability is loneliness or isolation. Loneliness affects brain function in a negative way. When we talk and listen the brain is working, especially if we’re learning or teaching.
  • Do brain exercise to improve cognitive function. Puzzles, brain teasers, math problems, trivia games as well as board, card and computer games are all excellent ways to give the brain workout. Vary the exercises, be consistent and do them 3-4 times a week for best results. Exercise your body too! The brain is where the signal originates to tell the body what to do. Without the brain the body is lifeless. Do exercises you enjoy and also try new forms of exercise to make the brain work harder.
  • Read and write daily if possible, both of these tasks work the mind and help keep cognitive ability from slipping away. It seems like such a simple thing to do and it is, so why not do it? Do yourself a favor and keep a tablet, pen and several books available for easy access.
  • Lastly, eat healthy and add more brain foods to your diet. Consume foods rich in antioxidants like berries, grapes, veggies, nuts, eggs, seeds, cereals and foods that contain vitamins A, C, E and B complex. Also, salmon, mackerel and tuna as well as healthy fats found in avocado and olives are good for the brain. 

Cognitive Learning Style

By Daniella Lauren, eHow Contributor

Cognitive learning refers to the ability to solve problems by learning, thinking, and memorizing and is commonly thought of as being part of one’s personality. There are four basic cognitive learning styles: multiple intelligence, mental self government, modalities, and mind style. Learning to recognize preferred cognitive learning styles can enhance both teaching and learning.

  • Multiple Intelligence

Howard Gardner developed the multiple intelligence (MI) theory which explains that people are born with different levels of intelligence, and that intelligence can be “nurtured and strengthened, or ignored and weakened.”Gardner suggests that teachers identify and accommodate to the nine different teaching styles:

  1. Visual / spacial learners enjoy charts, graphs, and illustrations and   like to see what they are learning to better understand.
  2. Verbal/linguistic learners excel in the traditional classroom and enjoy reading, writing, speaking, and listening,
  3. Mathematical/logical learners also excel in traditional classrooms and display a talent with reasoning and number skills.
  4. Bodily/kinesthetic learners do extremely well with hands-on activities and experiments.
  5. Musical/rhythmic learners pattern, rhythms, and musical expression.
  6. Intrapersonal learners are often quiet and intuitive.
  7. Interpersonal learners are outgoing and enjoy learning in groups or with partner
  8. Naturalist learners enjoy field trips and how they differ from traditional classroom learning.
  9. Existentialist learners prefer learning in context and are philosophic.
  • Mental Self Government

Developed by Robert Sternberg, mental self government (MSG) asserts that intelligence is made up of a combination of three levels of self-management:

  1. Functions of the governments of the mind, such as the legislative, executive, and judicial form of government which carry out different roles.
  2. Forms of self government, such as monarchy, hierarchy, oligarchy, and anarchy.
  3. Scope and stylistic variables, such as internal learners who prefer to keep to themselves, and external learners who like to collaborate.

Sternberg suggests that teachers tend to teach based upon their own MSG and encourages altered teaching styles to reach every student.

  • Modality

Modality refers to the way information is processed and is typically broken down into three categories: visual, auditory, and tactile/kinesthetic. Since the typical student will only retail some of information presented in one modality, an effective lesson plan will include repetition of the material by using different modalities, which then increases comprehension.

  • Mind Style

Anthony Gregorc suggests that the mind works with two primarily perceptive qualities: abstract and concrete; and two ordering abilities: sequential and random.

Regarding perceptive qualities, the concrete style uses the five senses to identify with objects, whereas the abstract style uses intuition, imagination, and visualization and looks for the subtleties.

The ordering abilities relate to how things are organized. Those who prefer sequential order tend to organize by train of thought and like plans. Random thinkers cluster ideas by chunks and are more impulsive.

Gregorc notes that most people are not strictly one type of learner, and will often switch from one style to another under different circumstances.

 Cognition: Early Brain Development

1. Cognition, the mental ability to learn and acquire knowledge, is part of early brain development. Cognitive development encompasses all sensory input. As Master Social Worker (MSW) Angela Aswalt explained regarding Piaget’s theory, infants initially learn through instinctive and reflexive behavior. Their earliest cognitive development consists of two major milestones: discovery that they can acquire attention to their needs, typically through crying; and understanding of the “object permanence” concept–even if caregivers “disappear” from view, they reappear to tend to infants’ needs.

Language: Later Brain Development

2. In contrast to cognition, babies normally develop language somewhere between 12 to 18 months of age. Language acquisition is part of later brain development and builds upon existing cognition. In other words, babies begin to understand concepts and make distinctions between objects and events, prior to acquiring the ability to define them with relevant words. Whereas cognition is initially instinctive, language learning occurs as an acquired skill when babies process what they see and hear around them. Babies begin acquiring language by mimicking words spoken by other people and understanding the connection between the words and the objects or events represented.

Cognition: Ongoing Brain Development

3. As toddlers progress through early childhood years, between the ages of two to five, cognitive brain development continues. The University of Michigan Health System (UMHS) determined that cognitive developmental milestones include thinking, reasoning and problem-solving. These milestones range from exploration, tasks such as piecing puzzles together and matching shapes around age two, to comprehension of concepts such as colors and numbers between the ages of three and four. Normally a five-year-old child can correctly name a few colors, count up to 10 or more, begin to understand the concept of time and identify things he uses daily.

Language: Ongoing Brain Development

4. Language learning explodes during these years, as normally developing children achieve several milestones. As defined by UMHS, from a previous vocabulary of only about a dozen words, two-year-old toddlers acquire a working language of as many as 200 words, including sentences of two or three words. Between three to four years old, children form sentences of four or more words and understand basic grammar rules. By the age of five, children can often recite part of a story, recall their names and addresses, and use longer sentences, including incorporating the future tense.

Jean Piaget, one of the best-known developmental psychologists, developed a stage theory of cognitive development. In his theory, all individuals progress through four specific stages, or periods of development, starting at birth and continuing on to adulthood.

Stage Theory Overview

http://twely.co.uk/read/piagets-fourth-stage-of-cognitive-development

Stage models describe development as a series of step-like stages.

Stage theorists like Piaget support the view that individuals’ development can be traced through step-like stages. Each step represents forward progress, or an increase in abilities. Stage theories in general also tend to have two modes; change and growth between stages, and longer periods of stability in the stage. Usually, each new stage incorporates all of the activities or skills of the earlier stages and adds to them.

Piaget’s Four Stage Model

Piaget’s model of cognitive development outlines the steps through which an individual moves from infancy to adult thinking. Unlike physical stages of growth, which are evident to the naked eye, cognitive growth must be measured by skills or activities. To define his stages, Piaget relied on his interpretations of how individuals represent the world around them and respond to it. Piaget considered ability to think rationally and use logic as markers of different stages.

The Four Stages

Piaget’s four stages are defined as:

  1. Sensorimotor – usually from birth to age two
  2. Preoperational – from age two or three to about age seven
  3. Concrete Operational – from age seven to eleven; and
  4. Formal Operational – from age twelve into adulthood
Formal Operational Stage

The fourth stage of Piaget’s model, the formal operational stage, is characterized by logical thinking and the ability to understand and process abstract information. Someone in the formal operational stage of Piaget’s model would be able to think about a hypothetical situation or think about and make plans for the future. A person in the formal operational stage can also understand abstract concepts such as freedom or justice. He can consider other points of view and see issues from multiple perspectives. The fourth stage is the ultimate and final stage in Piaget’s model of cognitive development.

Brain Exercises to Improve Cognition

By Hannah Rice Myers, eHow Contributor

Maybe you’ve begun to experience mental blocks more frequently than usual. Or perhaps while you’ve been in the middle of a conversation, you suddenly draw a blank and are unable to think of the perfect word to complete your sentence. These are all examples of poor cognitive function. Just as the muscles of your body will lose their strength when they are not worked, your brain will lose its ability to function when it is not exercised. Therefore, performing brain exercises each day can help your brain become sharper than ever before.

1. The Five Cognitive Functions

  • As you become older, your ability to remain mentally strong begins to decline; your cognition is responsible for this. However brain exercises can help improve your cognitive ability.

Within your brain, there are five main functions which comprise your cognitive abilities: memory, visual-spatial skills, language, attention and executive function. Stimulating these functions on a regular basis helps improve your cognitive abilities.

2. Memory

  • Memory plays the largest role in every cognitive function and activity your brain participates in, including reasoning and mental calculations. A variety of memory types are at work in your brain each day; however, you may not recognize them until one of them begins to fail you.

To exercise this function of cognition, try memorizing the words to a song you don’t know; this helps boost the chemical acetycholine, which is responsible for improving memory skills.

You can also try using your non-dominant hand for activities such as brushing your teeth, or attempt to get dressed in the dark; this forces the opposite side of your brain to begin working and thinking during these activities.

3. Attention

  • A good attention span is required in nearly every aspect of life; it assists you in concentration during times when you are surrounded by noise and distraction, while helping you multitask.

One way to exercise this function is by changing the route you take to a particular place each day, such as school or work. This forces your brain to wake up from its old habits and pay attention.

You can also combine activities, which helps your brain learn to multitask. When you walk or jog, listen to an audio book or music CD. While driving, force yourself to devise some mental math problems to solve. Both of these force your brain to work on more than one thing at a time.

 

 

4. Visual-Spatial

  • This function enables you to interact within your environment more efficiently and become more aware of your surroundings.

Begin by staring straight ahead, taking in as many objects as possible both directly in front of you and within your peripheral vision. An hour later, write down every object you can remember seeing. This a terrific workout for your brain.

Another effective exercise is to walk into a room and find five different objects, taking in their locations. Two hours later, force yourself to remember what the objects were and where they were located. This exercise not only forces you to use your memory, but also trains your brain to focus on its surroundings.

5. Alternative Exercises

  • While the above exercises are effective, there are online exercises that can help improve your cognitive ability as well. These were developed by a neurologist who specializes in improving cognition.

Just as your body benefits from a change in workouts and routines, so does your brain. A link to these interactive on line games, complete with your own virtual personal brain trainer, is located in the resource section.
Read more: Brain Exercises to Improve Cognition | eHow http://www.ehow.com/way_5426578_brain-exercises-improve-cognition.html#ixzz2T4Uaesfk

How to Test Cognitive Skills

By Julia Detering, eHow Contributor

Cognitive skills tests can help determine the presence of a concussion.

Tests for cognitive skills assess intellectual performance rather than intelligence. These tests are administered for a variety of reasons. They can be used to help determine the possibility of a concussion, the effects of high altitude, and the beginning signs of dementia. To use them accurately for these determinations, a baseline test should be administered prior to any potential brain damage. Then the results of each test can be compared for a more accurate determination of brain function.

Instructions

  1. Administer the Stroop test to assess directed attention capabilities. People can process words quicker than they can process color. The test consists of a paper that lists the names of colors. All of the colors are written in ink different from the actual name of the color. To take the test, the user must name the color of the ink of the printed word, not the read the word. This test is timed and the time it takes to correctly complete the test is recorded.
  2. Use the Trail Making test. This timed tests consist of two parts. In the first part, the numbers from 1 to 25 are placed in circles and printed sporadically around the paper. The test taker must connect the numbers in order. The amount of time it takes to complete this task is recorded. The second part of the test adds the letters A to L, also in circles. The test taker must connect the letters and the numbers in consecutive order.
  3. Administer the Digit-Span Backward test. In this oral test, the administrator says numbers of increasing length. The test taker then repeats the number back. This test will show deficiencies in short-term memory and attention span. It is often used to evaluate children for Attention Deficit Disorder (ADD).
  4. Apply a battery of neuropsychological tests. Tests such as the Halstead-Reitan Neuropsychological Test Battery contain a number of consecutive tests to look at a variety of cognitive skills. These skills include memory, dexterity, thought processes and language comprehension. Such tests are administered to determine more complex brain function problems or brain damage.

Read more: How to Test Cognitive Skills | eHow http://www.ehow.com/how_7539620_test-cognitive-skills.html#ixzz2T4XCMHV7

How to Improve Cognitive Skills in Adults

By Sara Mahuron, eHow Contributor

The U.S. is one of the only countries where older adults are better educated than younger adults (OECD, 2008).

According to the National Center for Higher Education Management Systems, 40 percent of U.S. college students in 2007 were over the age of 25. Adult learners can also be found in corporate training programs, self-help programs and a number of other programs aimed at improving the skills and lives of adults. While the goals of adult education programs might differ, strategies and theory pertaining to adult learning is consistent. Adult learners are unique and require special considerations in learning programs and when improving cognitive skills.

Instructions

  1. Motivate adult learners to learn. Adult learners are often motivated to learn things for different reasons than traditional students. Assessing the reasons adults are participating in programs or courses will give the instructor insight into how they can be motivated. Use appropriate rewards and emphasize the benefits the learner will receive for being successful. Adult learners also need to be supported and coached through learning. Take the time to compliment adult learners when they achieve their learning goals and provide direct constructive feedback to help them improve.
  2. Utilize life experiences to help adult learners learn new material. Use examples and reflection. Assess prior knowledge and connect new concepts to known concepts.
  3. Relate learning to practice. Adult learners often need to know that what they are learning is going to be useful and not just a waste of their time. Reinforce the learning and retention of skills by practice, giving knowledge meaning and supporting knowledge transfer.
  4. Create an appropriate learning environment free of distractions. Adults often have many competing responsibilities in their lives and are easily distracted. Consider adult participant needs when creating schedules and choosing learning locations. Make sure that the facilities are appropriate for adult learners.
  5. Set expectations for learning and clear objectives that can be evaluated. Also establish any classroom rules from the beginning. Ask adult learners to give input throughout the learning process.
  6. Encourage adult learners to have a healthy and balanced lifestyle. Adults need enough sleep so that they can focus on learning new things. Adults also need to eat healthy and practice a healthy lifestyle to optimize their cognitive abilities.
  7. Differentiate instruction and visual aids so that it is appropriate for all learning styles. Adults have different ways of learning, whether they are auditory, visual or kinesthetic learners. Adults need to receive instruction that involves the senses with which they learn best.
  8. Play games, do puzzles and practice analytical thinking. As adults age, cognitive functions can deteriorate if they are not used. To improve cognitive skills, adults need to be encouraged to use processes that relate to the skills sought.

Read more: How to Improve Cognitive Skills in Adults | eHow http://www.ehow.com/how_10025011_improve-cognitive-skills-adults.html#ixzz2T4XbvPdA

How to Improve Cognitive Skills in Toddlers

By Chris Stevenson, eHow Contributor

Toddlers at 18 months begin to recognize and differentiate between objects and pictures.

Cognitive skills, when applied to toddlers, include activities that enhance fundamental mental abilities. The mental processes involved with cognition include learning and studying, memory and recall, reasoning, observation and comparing. Parents play the most important role in teaching cognitive skills to their toddler, which is done with patience, love, nurturing and support. Toddlers need exposure to stimuli, involving all of the senses, so their perceptions can develop fully. Cognitive skills are taught and repeated as necessary. Parents can improve their child’s cognitive skills by formulating a plan and spending a regular amount of time of learning and instruction with their child.

Things You’ll Need

  • Toys (age appropriate)
  • Picture books
  • Paper

Instructions

  1. Adopt a supportive attitude and realize that praise goes hand in hand with interactive cognitive instruction with a young child. Practice patience and keep a calm demeanor during all play and learning activities. Trying to push the child too early to learn or absorb a specific task will create frustration and sometime anger on the child’s part. Use a reward system that will give the child confidence and instill an amount of pride in his accomplishments. Do not yell, threaten or become angry during a learning session — it sends confused signals.
  2. Reserve certain times of the morning, afternoon or evening when you will have quality time to spend with your child. The session should be long enough to impact the child’s awareness that this time is special and long enough to arouse interest. Do not follow a routine that mimics the same play and learning every time — vary the play toys, change the location, and add variety and surprise to the sessions. Keep the methods and techniques of learning and exploring relatively similar.
  3. Introduce your child to age-appropriate toys. Toddlers who have not achieved walking ability do well with building blocks, hammering toys, large puzzles, plastic keys, large picture books, and paper and crayons. Demonstrate the use of the toy and let the child explore her own interpretation of its function. Demonstrate another function of the toy, once the child has mastered a basic manipulation. Let the child watch you draw with a crayon, then encourage the same behavior, assisting with a guiding hand.
  4. Promote sorting activity. Small children have a natural tendency to sort and organize objects according to size, shape and color. Lay out dozens of crayons and help the child sort them according to length and color. Use different-colored and size balls or blocks. Help them sort soft objects from hard objects, introducing feel and touch. Sorting and organizing are the first skills that give a child a sense of accomplishment.
  5. Escort the child outdoors for a change environment. Toddlers love water activities, and you can have some sprinkle fun with a “peekaboo” hose that suddenly appears and sprinkles the child. Allow your child to sit in a small dirt pile, add some water and a round spatula spoon, and watch the fun begin when your child begins to mix the mud. Point out flying insects, such as moths and butterflies, pull up samples of grass, and pick flowers. Let the child walk or crawl through sand and tall grass, to experience the different textures. Show the child, by example, that the outside is very different from the inside and that it can be thrilling to explore.
  6. Read often to the child, which does not have to be during a regular play session, but as frequently as your time allows. Use large, colorful picture books. Enunciate the vowel sounds and point to important words that describe the characters in the book. Allow animation and expression to show on your face, a sign that you are both experiencing something thrilling — an adventure. Encourage the child to repeat words and point. The reading sessions involve the first learning steps in eye recognition, pronunciation and word association — skills that will assist in the preschool and kindergarten years.

Read more: How to Improve Cognitive Skills in Toddlers | eHow http://www.ehow.com/how_8658591_improve-cognitive-skills-toddlers.html#ixzz2T4XrmFdq

How to Improve Cognitive Skills in Children

By Maribeth Pugh, eHow Contributor

Reading mentally stimulates children and can improve their writing.

Cognitive skills are necessary in everyday life and essential for decision-making, learning and processing information. According to Learning RX, 80% of learning struggles are due to one or more weaknesses of cognitive skills, which are basic brain skills that allow individuals to remember, think and learn. The core areas of cognitive skills are information processing speed, auditory processing, visual processing, long-term memory, short-term memory, logic and reasoning, and attention skills. Children with weak mental skills may struggle and have a difficult time grasping new information which can lead to slower learning.

Instructions

  1. Exercise on a regular basis to improve thinking, planning and math skills. According to Health Day, studies revealed a link between exercise and increased activity in parts of the brain associated with self-control and complex thinking. Sedentary lifestyles are not healthy, which may lead to children performing poorly in school and being overweight. When a child is moving or performing a physical activity, the mind is stimulated. Health Day also suggests a link between regular exercise and an increase in intelligence-test scores. Children may may gain small or large benefits depending on the amount of time spent exercising. They will benefit more by spending a minimum of 40 minutes a day being active.
  2. Engage in hand clapping and singing to improve motor and cognitive skills in children and college students.This activity involves listening, singing, dancing and clapping your hands to music. Elementary children who participate in singing tend to have neater handwriting, fewer spelling errors, and become overall better writers. Dr. Idit Sulkin of Ben-Gurion University suggests that children who do not participate in singing games are at risk of developing learning problems like dyscalculia and dyslexia. Such activities improve social skills and influence development in different areas of your brain. Children experience a developmental phase between the ages of 7 and 10. This phase is the best time to enhance a child’s sociological, emotional, cognitive, and physiological needs.
  3. Read books to children to help develop their cognitive skills. Skills such as memory, attention, self-regulation and symbolic thinking are necessary when learning to read. Reading teaches attentiveness because there is a need to distinguish between letters. It also improves memory since you have to remember the previous words before moving to the next ones. Not remembering the words can result in poor comprehension. Cognitive skills continue to improve with constant reading.
  4. Get ideas about children’s interests by paying attention to their favorite books and movies. If your son shows an interest in martial arts, you can expand on it by enrolling him in a karate class.If your daughter likes watching competitive gymnastics, enroll her in a gymnastics class at an early age. Learning a new activity can teach your child independence, goal-setting, and may even improve social skills.

Read more: How to Improve Cognitive Skills in Children | eHow http://www.ehow.com/how_8272278_improve-cognitive-skills-children.html#ixzz2T4YnapAz

 

 

Pandangan Islam terhadap Isme – Isme Modern dan Aliran Sesat

Bab I

PEMDAHULUAN

 

1.1        Latar Belakang

Muhammadiyah adalah “Gerakan Islam amar ma’ruf nahi munkar bersumber pada Al-Quran dan Assunnah, yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H. bertepatan dengan tanggal 18 November 1912, di Desa Kauman Kota Jogjakarta. Dalam dinamika kesejarahannya selalu berusaha merespon berbagai perkembangan kehidupan dengan senantiasa merujuk pada ajaran Islam yang bersumber dari dua sumber primer ajaran ini. Untuk mencapai maksud dan tujuannya yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, maka Muhammadiyah melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid yang diwujudkan dalam usaha di segala bidang kehidupan. Dalam pengembangan bidang keagamaan dan dakwah ditangani oleh dua majlis yaitu Majlis Tarjih dan Tajdid (MTT) dan Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus (MT-DK).

1.2        Rumusan Masalah

  1. Apa Sumber Ajaran Islam yang sesungguhnya ?
  2. Seperti apa Pemahaman Ajaran Islam itu ?
  3. Apa yang dimaksud dengan isme-isme modern ? Apa saja isme-isme modern tersebut ?
  4. Apa saja Aliran-Aliran sesat di Indonesia ?

1.3        Tujuan

Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah AIKA (Agama Islam dan Kemuhammadiyahan), serta kami ingin mengetahui apa saja isme-isme modern dan beberapa aliran sesat yang ada di Indonesia.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Sumber ajaran islam

Muhammadiyah, sebagai gerakan keagamaan yang berwatak sosio kultural, dalam dinamika kesejarahannya selalu berusaha merespon berbagai perkembangan kehidupan dengan senantiasa merujuk pada ajaran Islam yang bersumber dari dua sumber primer ajaran ini. Yakni Alquran dan Assunnah AlmaqbulahHal ini bisa kita lihat di dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah BAB II Pasal 4 ayat 1. Hanya saja istilah Assunnah Almaqbulah baru digunakan setelah diresmikan istilahnya pada Keputusan Musyawarah Nasional Majlis Tarjih XXV tentang Manhaj Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam di Jakarta tahun 2000, dan sebelumnya digunakan istilahAssunnah Ashshahihah.

Untuk mencapai maksud dan tujuannya yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, maka Muhammadiyah melaksanakan amarma’ruf nahi munkar dan tajdid yang diwujudkan dalam usaha di segala bidang kehidupan. Dalam pengembangan bidang keagamaan dan dakwah ditangani oleh dua majlis yaitu Majlis Tarjih dan Tajdid (MTT) dan Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus (MT-DK).

     

B. Pemahaman Ajaran Islam

Hal-hal yang berkaitan dengan paham agama dalam Muhammadiyah secara garis besar dan pokok-pokoknya ialah sebagai berikut:

  1. Agama, yakni Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ialah apa yang diturunkan Allah dalam Alquran dan yang disebut dalam Sunnah maqbulah, berupa perintah-perintah, larangan-larangan, dan petunjuk-petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat (Kitab Masalah Lima, Al-Masail Al-Khams tentang al-Din).
  2. Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah Agama Allah yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan seterusnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa, dan menjamin kesejahteraan hidup materiil dan spirituil, duniawi dan ukhrawi.
  3. Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang:
  • Aqidah: Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bid’ah dan khurafat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam;
  • Akhlaq: Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlaq mulia dengan berpedoman kepada ajaran-ajaran Alquran dan Sunnah Rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia;
  • Ibadah: Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ‘ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW. tanpa tambahan dan perubahan dari manusia;
  • Mu’amalah dunyawiyat; Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya mu’amalah dunyawiyat (pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan ajaran Agama serta menjadikan semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ‘ibadah kepada Allah S.W.T.
  1. Islam adalah agama untuk penyerahan diri semata-mata karena Allah, agama semua Nabi, agama yang sesuai dengan fitrah manusia, agama yang menjadi petunjuk bagi manusia, agama yang mengatur hubungan dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama, dan agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Islam satu-satunya agama yang diridhai Allah dan agama yang sempurna.
  2. Bahwa dasar muthlaq untuk berhukum dalam agama Islam adalah Alquran dan Sunnah. Bahwa di mana perlu dalam menghadapi soal-soal yang telah terjadi dan sangat dihajatkan untuk diamalkannya, mengenai hal-hal yang tak bersangkutan dengan ‘ibadah mahdhah padahal untuk alasan atasnya tiada terdapat nash sharih dalam Alquran dan Sunnah maqbulah, maka dipergunakanlah alasan dengan jalan ijtihad dan istinbath dari nash yang ada melalui persamaan ‘illat, sebagaimana telah dilakukan oleh ‘ulama salaf dan Khalaf (Kitab Masalah Lima, Al-Masail Al-Khams tentang Qiyas).
  3. Muhammadiyah dalam memaknai tajdid mengandung dua pengertian, yakni       pemurnian (purifikasi) dan pembaruan (dinamisasi).

Hal yang penting yang perlu menjadikan pamahamaman bersama bahwa paham islam dalam muhammadiyah bersifat komprensif dan luas, sehingga tidak sempit dan parsial. Agam dalam pandangan atau paham muhammadiyah tidak lah sepotong-potong, serpihan-serpihan dan hanya hukum atau fikih belaka. Paham agama yanh id tanamkan bukan ajaran nya yang terbatas, tetapi luas dan multiaspek karen amuhammadiyah merupakan gerakan islam, mak paham tentang islam merupakan kewajiban atau keniscayaan yang fundamental, yang yang intinya pada memperdalam sekaligus memperluas paham islam bagi seluruh warga muhammadiyah. Kemudian menyebarkan/mensosialisasikan dan mengamalkan dalam kehidupan umat serta masyarakat sehingga islam yang didakwahkan muhammadiyah membawa/mwnjadi rahmatan lil-‘alamin.  Muhammdiyah bergerak dalam berbagai bidang kehidupan manusia yang antara lain dapat diklasisfikasikan sebagai berikut :

      a. Bidang Aqidah

Aqidah Islam menurut Muhamadiyah dirumuskan sebagai konsekuensi logis dari gerakannya. Formulasi aqidah yang dirumuskan dengan merujuk langsung kepada sumber utama ajaran Islam itu disebut‘aqidah shahihahyang menolak segala bentuk campur tangan pemikiran teologis. Karakteristik aqidah Muhammadiyah itu secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, nash sebagai dasar rujukan. diyakini sepenuhnya bahwa hanya dengan berpedoman pada kedua sumber utama itulah ajaran Islam dapat hidup dan berkembang secara dinamis. Muhammadiyah juga menjadikan hal ini sebagai tema sentral gerakannya, lebih-lebih dalam masalahaqidah, seperti dinyatakan: “Inilah pokok-pokok ‘aqidah yang benar itu, yang terdapat dalam Alquran dan dikuatkan dengan pemberitaan-pemberitaan yang mutawatir.”

Jelaslah bahwa sumber aqidah Muhammadiyah adalah alquran dan Sunnah yang dikuatkan dengan berita-berita yang mutawatir. Ketentuan ini juga dijelaskan lagi dalam pokok-pokok Manhaj Tarjih sebagai berikut: “ Di dalam masalah aqidah hanya dipergunakan dalil-dalil yang mutawatir, Dalil-dalil umum Alquran dapat ditakhsis dengan hadits ahad, kecuali dalam bidang aqidah, dalam memahami nash, makna zhahir didahulukan daripada ta’wil dalam bidang aqidah dan takwil sahabat dalam hal itu tidak harus diterima.”

Ketentuan-ketentuan tersebut menggambarkan bahwa secara tegas aqidah Muhammadiyah bersumber dari Alquran dan Sunnah tanpa interpretasi filosofis seperti yang terdapat dalam aliran-aliran teologi pada umumna. Sebagai konsekuensi dari penolakannya terhadap pemikiran filosofis ini, maka dalam menghadapi ayat-ayat yang berkonotasi mengundang perdebatan teologis dalam pemaknaannya, Muhammadiyah bersikap tawaqquf seperti halnya kaum salaf.

Kedua, keterbatasan peranan akal dalam soal aqidah Muhammadiyah termasuk kelompok yang memandang kenisbian akal dalam masalah aqidah. Sehingga formulasi posisi akal sebagai berikut : “Allah tidak menyuruh kita membicarakan hal-hal yang tidak tercapai pengertian oleh akal dalam hal kepercayaan, sebab akal manusia tidak mungkin mencapai pengertian tentang Dzat Allah dan hubungan-Nya dengan sifat-sifat yang ada pada-Nya.

Ketiga, kecondongan berpandangan ganda terhadap perbuatan manusia. Pertama, segala perbuatan telah ditentukan oleh Allah dan manusia hanya dapat berikhtiar. Kedua, jika ditinjau dari sisi manusia perbuatan manusia merupakan hasil usaha sendiri. Sedangkan bila ditinjau dari sis Tuhan, perbuatan manusia merupakan ciptaan Tuhan.

Keempat, percaya kepada qadha’ dan qadar. Dalam Muhammdiyah qadha’ dan qadar diyakini sebagai salah satu pokok aqidah yang terakhir dari formulasi rukun imannya, dengan mengikuti formulasi yang diberikan oleh hadis mengenai pengertian Islam, Iman dan Ihsan.

Kelima, menetapkan sifat-sifat Allah. Seperti halnya pada aspek-aspek aqidah lainnya, pandangan Muhammadiyah mengenai sifat-sifat Allah tidak dijelaskan secara mendetail. Keterampilan yang mendekati kebenaran Muhammadiyah tetap cenderung kepada aqidah salaf.

      b. Bidang Hukum

Muhammadiyah melarang anggotanya bersikap taqlidyaitu sikap mengikuti pemikiran ulama tanpa mempertimbangkan argumentasi yang logis. Dan sikap keberagaman yang dibenarkan oleh Muhammadiyah adalah ittiba’,yaitu mengikuti pemikiran ulama dengan mengetahui dalil dan argumentasi serta mengikutinya dengan pertimbangan logika. Di samping itu, Muhammadiyah mengembangkan ijtihad sebagai karakteristik utama organisasi ini. Adapun pokok-pokok utama pikiran Muhammadiyah dalam bidang hukum yang dikembangkan oleh Majlis Tarjih antara lain:

  1. Ijtihad dan istinbath atas dasar ‘illah terhadap hal-hal yang terdapat di dalam nash, dapat dilakukan sepanjang tidak menyangkut bidang ta’abbdidan memang merupakan hal yang diajarkan dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia.
  2. Tidak mengikatkan diri kepada suatu madzhab, tetapi pendapat madzhab dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan hukum.
  3. Berprinsip terbuka dan toleran dan tidak beranggapan bahwa hanya Majlis Tarjih yang paling benar. Koreksi dari siapa pun akan diterima sepanjang diberikan dalil-dalil yang lebih kuat.

Dengan demikian, Majlis Tarjih dimungkinkan mengubah keputusan yang pernah ditetapkan.

  1. Ibadah ada dua macam, yaitu ibadah khusus, yaitu apa yang telah ditetapkan Allah akan perincian-perinciannya, tingkah dan cara-caranya yang tertentu, dan ibadah umum, yaitu segala perbuatan yang dibolehkan oleh Allah dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya.
  2. Dalam bidang ibadah yang diperoleh ketentuan-ketentuannya dari Alquran dan Sunnah, pemahamannya dapat menggunakan akal sepanjang diketahui latar belakang dan tujuannya. Meskipun harus diakui bahwa akal bersifat nisbi, sehingga prinsip mendahulukan nash daripada akal memiliki kelenturan dalam menghadapi perubahan.

 

      C. Bidang Akhlak

Mengingat pentingnya akhlaq dalam kaitannya dengan keimanan seseorang, maka Muhammadiyah sebagai gerakan Islam juga dengan tegas menempatkan akhlaq sebagai salah satu sendi dasar sikap keberagamaannya.

Akhlak adalah nilai-nilai dan sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan (Imam Ghazali). Nilai dan perilaku baik dan burruk seperti sabar, syukur, tawakal, birrul walidaini, syaja’ah dan sebagainya (Al-Akhlaqul Mahmudah). Dan sombong, takabur, dengki, riya’, ‘uququl walidain dan sebagainya (Al-Akhlaqul Madzmuham).

Untuk menghidupkan akhlaq yang islami, maka Muhammadiyah berusaha memperbaiki dasar-dasar ajaran yang sudah lama menjadi keyakinan umat Islam, yaitu dengan menyampaikan ajaran yang benar-benar berdasar pada ajaran Alquran dan Sunnah Maqbulahmembersihkan jiwa dari kesyirikan, sehingga kepatuhan dan ketundukan hanya semata-mata kepada Allah. Usaha tersebut ditempuh melalui pendidikan, sehingga sifat bodoh dan inferoritas berangsur-angsur habis kemudian membina ukhuwah antar sesame muslim yang disemangati oleh Surat Ali Imron ayat 103.

Adapun sifat-sifat akhlak Islam dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Akhlaq Rabbani : Sumber akhlaq Islam itu wahyu Allah yang termasuk dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, bertujuan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Akhlaq Islamlah moral yang tidak bersifat kondisional dan situasional, tetapi akhlaq yang memiliki nilai-nilai yang mutlak. Akhlaq rabbanilah yang mampu menghindari nilai moralitas dalam hidup manusia (Q.S.) Al-An’am / 6 : 153).
  2. Akhlak Manusiawi. Akhlaq dalam Islam sejalan dan memenuhi fitrah manusia. Jiwa manusia yang merindukan kebaikan, dan akan terpenuhi dengan mengikuti ajaran akhlaq dalam Islam. Akhlaq Islam benar-benar memelihara eksistensi manusia sebagai makhluk terhormat sesuai dengan fitrahnya.
  3. Akhlak Universal. Sesuai dengan kemanusiaan yang universal dan menyangkut segala aspek kehidupan manusia baik yang berdimensi vertikal, maupun horizontal. (Q.S. Al-An’nam : 151-152).
  4. Akhlak Keseimbangan. Akhlaq Islam dapat memenuhi kebutuhan sewaktu hidup di dunia maupun di akhirat, memenuhi tuntutan kebutuhan manusia duniawi maupun ukhrawi secara seimbang, begitu juga memenuhi kebutuhan pribadi dan kewajiban terhadap masyarakat, seimbang pula. (H.R. Buhkori).
  5. Akhlaq Realistik. Akhlaq Islam memperhatikan kenyataan hidup manusia walaupun manusia dinyatakan sebagai makhluk yang memiliki kelebihan dibanding dengan makhluk lain, namun manusia memiliki kelemahan-kelemahan itu yaitu sangat mungkin melakukan kesalahan-kesalahan. Oleh karena itu Allah memberikan kesempatan untuk bertaubat. Bahkan dalam keadaan terpaksa. Islam membolehkan manusia melakukan yang dalam keadaan biasa tidak dibenarkan. (Q.S. Al- Baqarah / 27 : 173).

 

 D. Bidang Mu’amalah Dunyawiyah

Mua’malah adalah aspek kemasyarakatan yang mengatur pergaulan hidup manusia diatas bumi ini, baik tentang harta benda, perjanjian-perjanjian, ketatanegaraan, hubungan antar negara dan lain sebagainya.Di dalam prinsip-prinsip Majlis Tarjih disebutkan “Dalam hal-hal termasuk Al-Umurud Dunyawiyah yang tidak termasuk tugas para nabi, menggunakan akal sangat diperlukan, demi untuk tercapainya kemaslahatan umat.”

Adapun prinsip-prinsip mu’amalah dunyawiyah yang terpenting antara lain:

  1. Menganut prinsip mubah.
  2. Harus dilakukan dengan saling rela artinya tidak ada yang dipaksa.
  3. Harus saling menguntungkan. Artinya mu’amalah dilakukan untuk menarik     manfaat dan menolak kemudharatan.
  4. Harus sesuai dengan prinsip keadilan.

 

E. Isme-isme modern

 

              a. Faham Sekulerisme

Menurut Ensiklopedi Britania misalnya, menyebutkan bahwa “sekularisme” adalah sebuah gerakan kemasyarakatan yang bertujuan memalingkan dari kehidupan akhirat dengan semata-mata berorientasi kepada dunia. Gerakan ini dilancarkan karena pada abad-abad pertengahan, orang sengat cenderung kepada Allah dan hari akhirat dan menjauhi dunia. Sekularisme tampil untuk menghadapinya dan untuk mengusung kecendrungan manusia yang pada abad kebangkitan, orang menampakkan ketergantungan yang besar terhadap aktualisasi kebudayaan dan kemanusiaan dan kemungkinan terealisasinya ambisi mereka terhadap dunia.

Sedangkan menurut Kamus Dunia Baru oleh Wipster merinci makna Sekularisme adalah Semangat Keduniaan atau orientasi “duniawi” dan sejenisnya. Secara khusus adalah undang-undang dari sekumpulan prinsip dan praktek (practices) yang menolak setiap bentuk keimanan dan ibadah. Keyakinan bahwa agama dan urusan-urusan gereja tidak ada hubungannya sama sekali dengan soal-soal pemerintahan, terutama soal pendidikan umum.

 Jadi dari berbagai macam pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Sekularisme ialah memisahkan agama dari kehidupan individu atau sosial dalam artian agama tidak boleh ikut berperan dalam pendidikan, kebudayaan maupun dalam hukum. Dengan kata lain sekularisme ialah memisahkan Allah Ta’ala dari hukum dan undang-undang mahluk-Nya. Allah tidak boleh ikut mengatur mereka seakan-akan tuhan mereka adalah diri mereka sendiri, berbuat sesukanya dan membuat hukum sesuai seleranya.

b. Faham Pluralisme Agama

Pluralisme sering diartikan sebagai paham yang mentoleransi adanya ragam pemikiran, agama, kebudayaan, peradaban dan lain-lain. Kemunculan ide pluralisme didasarkan pada sebuah keinginan untuk melenyapkan ‘klaim keberanan’ yang dianggap menjadi pemicu munculnya sikap ekstrem, radikal, perang atas nama agama, konflik horisontal, serta penindasan atas nama agama. Menurut kaum pluralis, konflik dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama baru sirna jika masing-masing agama tidak lagi menganggap agamanya yang paling benar.

Di Barat, pluralisme memiliki akar yang dapat dilacak jauh ke belakang, tapi yang paling dominan adalah akar nihilisme dan relativisme Barat postmodern. Sejak awal, postmodernisme ini menjadikan fundamentalisme sebagai musuh utamanya

Pluralisme agama adalah sebuah konsep yang mempunyai makna yang luas, berkaitan dengan penerimaan terhadap agama-agama yang berbeda, dan dipergunakan dalam cara yang berlain-lainan pula:

  • Sebagai pandangan dunia yang menyatakan bahwa agama seseorang bukanlah sumber satu-satunya yang eksklusif bagi kebenaran, dan dengan demikian di dalam agama-agama lain pun dapat ditemukan, setidak-tidaknya, suatu kebenaran dan nilai-nilai yang benar.
  • Sebagai penerimaan atas konsep bahwa dua atau lebih agama yang sama-sama memiliki klaim-klaim kebenaran yang eksklusif sama-sama sahih. Pendapat ini seringkali menekankan aspek-aspek bersama yang terdapat dalam agama-agama.
  • Kadang-kadang juga digunakan sebagai sinonim untuk ekumenisme, yakni upaya untuk mempromosikan suatu tingkat kesatuan, kerja sama, dan pemahaman yang lebih baik antar agama-agama atau berbagai denominasi dalam satu agama.
  • Dan sebagai sinonim untuk toleransi agama, yang merupakan prasyarat untuk ko-eksistensi harmonis antara berbagai pemeluk agama ataupun denominasi yang berbeda-beda.

Dalam The Golier Webster Int. Dictionary Of The English Languagediungkap bahwa pluralisme dipahami dalam dua makna, pertama, adanya pengakuan terhadap kualitas majemuk atau toleransi terhadap kemajemukan. Artinya, toleransi yang dimaksud adalah di mana masing-masing agama, ras, suku dan kepercayaan berpegang pada prinsip masing-masing dan menghormati prinsip dan kepercayaan orang lain. Kedua, pluralisme berupa doktrin, yakni: a). pengakuan terhadap kemajemukan prinsip tertinggi, b) dalam masalah kebenaran, tidak ada jalan untuk mengatakan hanya ada satu kebenaran tunggal tentang suatu masalah, c) berisi ancaman bahwa tidak ada pendapat yang benar, atau semua pendapat itu sama benarnya, d) teori yang sejalan dengan relativisme dan sikap curiga terhadap kebenaran (truth), e) dan terakhir, pandangan bahwa di sana tidak ada pendapat yang benar atau semua pendapat adalah sama benarnya (no view is true, or that all view are equally true). (Lihat juga dalam  Oxford Advanced Lear ners’ Dictionary of Current English dan Oxford Dictionary of Philosophy).

Dari sisi definisi saja dapat diketahui bahwa pluralisme itu sendiri sudah mengandung pandangan relativitas dalam kebenaran, atau setidaknya, curiga terhadap kebenaran. Pluralisme ini tidak berpegang pada suatu dasar apa pun. Tidak boleh ada kebenaran tunggal. Bahkan dalam satu pengertian, pluralisme mengajarkan bahwa sebenarnya kebenaran itu tidak ada.

Pluralisme Menurut Islam

Allah SWT berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa di sisi Allah (QS al-Hujurat [49]: 13).

Ayat ini menerangkan bahwa Islam mengakui keberadaan dan keragaman suku dan bangsa serta identitas-identitas agama selain Islam (pluralitas), namun sama sekali tidak mengakui kebenaran agama-agama tersebut (pluralisme). Allah SWT juga berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَا لَيْسَ لَهُمْ بِهِ عِلْمٌ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

Mereka menyembah selain Allah tanpa keterangan yang diturunkan Allah. Mereka tidak memiliki ilmu dan tidaklah orang-orang zalim itu mempunyai pembela (QS al-Hajj:67-71).

Ayat ini menegaskan bahwa agama-agama selain Islam itu sesungguhnya menyembah kepada selain Allah SWT. Lalu bagaimana bisa dinyatakan, bahwa Islam mengakui ide pluralisme yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama-sama benarnya dan menyembah kepada Tuhan yang sama?

Dalam ayat yang lain, Allah SWT menegaskan:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ اْلإِسْلاَمُ

Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam (QS Ali Imran [3]: 19).

Allah SWT pun menolak siapa saja yang memeluk agama selain Islam (QS Ali Imran [3]: 85); menolak klaim kebenaran semua agama selain Islam, baik Yahudi dan Nasrani, ataupun agama-agama lainnya (QS at-Taubah [9]: 30, 31); serta memandang mereka sebagai orang-orang kafir (QS al-Maidah [5]: 72).

Karena itu, yang perlu dilakukan umat Islam sesungguhnya bukan menyerukan pluralisme agama apalagi dialog antaragama untuk mencari titik temu dan kesamaan. Masalahnya, mana mungkin Islam yang mengajarkan tauhid disamakan dengan Kristen yang mengakui Yesus sebagai anak Tuhan ataupun disamakan dengan agama Yahudi yang mengklaim Uzair juga sebagai anak Tuhan?! Apalagi Islam disamaratakan dengan agama-agama lain? Benar, bahwa eksistensi agama-agama tersebut diakui, tetapi tidak berarti dianggap benar. Artinya, mereka dibiarkan hidup dan pemeluknya bebas beribadah, makan, berpakaian, dan menikah dengan tatacara agama mereka. Tetapi, tidak berarti diakui benar. Karena itu, yang wajib dilakukan umat Islam tidak lain adalah terus-menerus menyeru para pemeluk agama lain untuk memeluk Islam dan hidup di bawah naungan Islam. Meski dengan catatan tetap tidak boleh ada pemaksaan. Lahirnya gagasan mengenai pluralisme (agama) sesungguhnya didasarkan pada sejumlah faktor. Dua di antaranya adalah:

Pertama, adanya keyakinan masing-masing pemeluk agama bahwa konsep ketuhanannyalah yang paling benar dan agamanyalah yang menjadi jalan keselamatan. Masing-masing pemeluk agama juga meyakini bahwa merekalah umat pilihan. Menurut kaum pluralis, keyakinan-keyakinah inilah yang sering memicu terjadinya kerenggangan, perpecahan bahkan konflik antarpemeluk agama. Karena itu, menurut mereka,  diperlukan gagasanpluralisme sehingga agama tidak lagi berwajah eksklusif dan berpotensi memicu konflik.

Kedua, faktor kepentingan ideologis dari Kapitalisme untuk melanggengkan dominasinya di dunia. Selain isu-isu demokrasi, hak asasi manusia dan kebebasan serta perdamaian dunia, pluralisme agama adalah sebuah gagasan yang terus disuarakan Kapitalisme global yang digalang Amerika Serikat untuk menghalang kebangkitan Islam.

Faham ini sangat berbahaya khususnya bagi umat islam bahaya pertama adalah penghapusan identitas-identitas agama. Dalam kasus Islam, misalnya, Barat berupaya mempreteli identitas Islam. Ambil contoh, jihad yang secara syar’i bermakna perang melawan orang-orang kafir yang menjadi penghalang dakwah dikebiri sebatas upaya bersungguh-sungguh. Pemakaian hijab (jilbab) oleh Muslimah dalam kehidupan umum dihalangi demi “menjaga wilayah publik yang sekular dari campur tangan agama.” Lebih jauh, penegakan syariah Islam dalam negara pun pada akhirnya terus dicegah karena dianggap bisa mengancam pluralisme. Ringkasnya, pluralisme agama menegaskan adanya sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan).

Bahaya lain pluralisme agama adalah munculnya agama-agama baru yang diramu dari berbagai agama yang ada. Munculnya sejumlah aliran sesat di Tanah Air seperti Ahmadiyah pimpinan Mirza Ghulam Ahmad, Jamaah Salamullah pimpinan Lia Eden, al-Qiyadah al-Islamiyah pimpinan Ahmad Mosadeq, dll adalah beberapa contohnya. Lalu dengan alasan pluralisme pula, pendukung pluralisme agama menolak pelarangan terhadap berbagai aliran tersebut, meski itu berarti penodaan terhadap Islam.

Sebaik nya para tokoh nasional hendaknya berhati-hati dalam menggunakan istilah pluralisme. Apalagi mengajak orang lain untuk menjalankannya. Di atas segalanya, mereka harus lebih mengedepankan isu ”iman”, bukan lainnya. Dalam masalah pluralisme ini misalnya, jangan hanya karena “dipaksakan”, lalu istilah itu begitu saja dipakai. Sebab, setiap istilah itu tidaklah ‘tergeletak’ begitu saja. Ia mengandung nilai-nilai, konsep dan ideologi bangsa yang melahirkannya. Jika datang dari Barat misalnya, maka ia mewakili nilai-nilai mereka (Barat). Demikian juga dengan istilah pluralisme.

c. Liberalisme dan Jaringan Islam Liberal ( JIL)

Liberalisme adalah suatu paham yang menghendaki adanya kebebasan individu dalam segala bidang. Menurut paham ini titik pusat dalam hidup ini adalah individu. Karena ada individu maka masyarakat dapat tersusun dan karena individu pula negara dapat terbentuk. Oleh karena itu, masyarakat atau negara harus selalu menghormati dan melindungi kebebasankemerdekaan individu. Setiap individu harus memiliki kebebasan kemerdekaan, seperti dalam bidang politik, ekonomi, dan agama misalnya dalam bidang Agama Liberalisme menganggap masalah agama merupakan masalahpribadi, masalah individu. Tiap-tiap individu harus memiliki kebebasan kemerdekaan beragama dan menolak campur tangan negara/pemerintah. Dengan demikian, dalam bidang agama, golongan liberal menghendaki kebebasan memilih agama yang disukainya dan bebas menjalankan ibadah menurut agama yang dianutnya.

Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.

      Jaringan Islam Liberal

Islam Liberal adalah suatu bentuk penafsiran tertentu atas Islam dengan landasan sebagai berikut:

a. Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.

Islam Liberal percaya bahwa ijtihad atau penalaran rasional atas teks-teks keislaman adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bisa bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik secara terbatas atau secara keseluruhan, adalah ancaman atas Islam itu sendiri, sebab dengan demikian Islam akan mengalami pembusukan. Islam Liberal percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), dan ilahiyyat (teologi).

b. Mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks.

Ijtihad yang dikembangkan oleh Islam Liberal adalah upaya menafsirkan Islam berdasarkan semangat religio-etik Qur’an dan Sunnah Nabi, bukan menafsirkan Islam semata-mata berdasarkan makna literal sebuah teks. Penafsiran yang literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran yang berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan universal.

c. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural.

Islam Liberal mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab sebuah penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkumpul oleh konteks tertentu; terbuka, sebab setiap bentuk penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran keagamaan, dalam satu dan lain cara, adalah cerminan dari kebutuhan seorang penafsir di suatu masa dan ruang yang terus berubah-ubah.

d. Meyakini kebebasan beragama.

Islam Liberal meyakini bahwa urusan beragama dan tidak beragamaadalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Islam Liberal tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar suatu pendapat atau kepercayaan.

 

 

 

F. Aliran-aliran sesat

Supaya lebih faham terhadap kedudukan Muhammadiyah dalam hubungannya dengan berbagai aliran dan faham agama yang terdapat dalam dunia Islam, maka kiranya patut dalam bab ini dibicarakan secara singkat tentang berbagai aliran faham agama yang muncul di tengah-tengah masyarakat Islam.

Di kalangan umat Islam, ada dua golongan yang timbul akibat pemahaman yang berbeda bidang pembahasannya yaitu:

1. Faham yang timbul dari sumber pemahaman yang berhubungan dengan masalah aqidah. Perbedaan faham yang ditimbulkan dari sumber yang berhubungan dengan aqidah Islamiyah terkenal dengan istilah FIRQOH. Seperti: Syiah, Khawarij, Oodariyah, Jabariyah, Mu’tazilah, Ahlus-Sunnah wal Jama’ah.

2. Faham yang timbul dari sumber pemahaman yang berhubungan dengan masalah furu’iyah atau ‘ubudiyah. Perbedaan faham yaiig ditimbulkan dari sumber yang berhubungan dengan masalah fu.ru’iyah terkenal dengan istilah: MADZHAB. Seperti:  Madzhab  Hanafi,  Madzhab  Hambali, Madzhab  Maiiki, Madzhab Syafe’i, Madzhab Dlahiri dan lain sebagainya.

 

Aliran yang berhubungan dengan masalah aqidah (Firqah)

1. Firqah Syi’ah.

Sesudah Rasulullah wafat, timbul perselisihan pendapat di kalangan masyarakat Islam kota Madinah dan sekitarnya mengenai: KHILAFAH, yaitu mengenai kekhalifahan (kepala pemerintahan) yang pernah dipegang Rasulullah.

Sementara kerabat Nabi dalam keadaan berkabung, muncul scorang Yahudi yang secara lahirnya telah mengaku beragama Islam yaitu Abdullah bin Saba’, dengan segala kelicikan dan kelihaiannya menghembus-hembuskan issue bahwa sesungguhnya hak kekhalifahan berada di tangan Ali bin Abi Tholib, putera paman Rasulullah sekaligus menantunya. Suara tersebut pertama kali tidak ditanggapi secara serius; akan tetapi karena tidak henti-hentinya diulang maka lama kelamaan orang-orang awam menerimanya juga sebagai kebenaran.

Abdullah bin Saba’ selalu menampakkan kecintaannya yang teramat mendalam kepada shahabat Ali bin Thalib, serta mengajarkan berbagai hal yang sangat berlebih-lebihan tentang diri pribadi shahabat Ali.

Setelah dilihat situasi masyarakat sudah cukup matang, maka Abdullah bin Saba’ mulai melancarkan fitnah ke tengah-tengah masyarakat. Bahwa Abu Bakar, Umar bin Khatab serta Usman bin Affan telah berbuat dosa besar, karen ketiga tokoh tersebui telah merebut hak orang Jain, yaitu merebut kekhalifahan milik sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Para pengikut faham dan ajaran Abdullah bin Saba’ ini akhirnya mengelompok dalam satu aliran yang terkenal dengan sebutan kaum Syi’ah.

2. Firqah Khawarij.

Ketika Ali bin Abi Thalib memegang kekhalifahan yang keempat sebagai pengganti khalifah Usman bin Affan maka beberapa kerabat dekat Usman bin Affan menuduh Ali bin Abi Thalib, bahwa kematian Usman bin Affan didalangi dan dilaksanakan oleh Ali dan para pengikutnya, dengan maksud jabatan khalifah segera dapat diambil olehnya. Oleh karena itu beberapa pengnasa daerah yang dahuiu diangkat oleh khalifah Usman dan kebetulan masih kera-batnya mengadakan aksi pembangkangan terhadap pemerintahan Ali bin Abi Thalib, Di antara mereka adalah Muawiyah Gubernur Basrah (Siria) dan Amru bin ‘Ash Gubernur Mesir, Sudah barang teniu aksi mereka tidak dibenarkan oleh. Ali. Berlarut-larutnya ketegangan antara penguasa daerah dengan penguasa pusat menimbulkan peperangan. Di satu pihak khalifah Ali beserta pengikut-pengikutnya di lain fihak Muawiyah dengan pengikut-pengikutnya yang dibantu oleh Gubernur Amru bin ‘Ash.

Peperangan tersebut pada akhirnya menunjukkan tanda-tanda kemenangan di fihak Ali. Maka dengan penuh tipu daya Muawiyah mengajukan ajakan perdamaian yang diterima juga oleh Ali. Terkenallah perdamaian itu dengan nama “Tahkim”. Ternyata keputusan Tahkim memperlihatkan kemenaringan di fihak Muawiyah, atas jasa Amru bin ‘Ash yang ditunjuk selaku wakil Muawiyah. Kiranya keputusan tersebut membuat sementara golongan ekstrim pendukung Ali merasa tidak puas dan tidak mau menerimanya, sehingga mereka memisahkan diri dari kelompok Ali, dan kelak mereka itu dikenal sebagi golongan Khawarij. Golongan Khawarij ini mempunyai pendirian bahwa golongan Ali serta pendukungnya yang menyetujui Tahkim, golongan Muawi-yah dan Amru bin ‘Ash serta kawan-kawannya telah keluar dari batas-batas Islam. Dengan Tahkim berarti mereka telah menyerahkan hukum tidak kepada Allah, sedang mereka berpendirian“tidak ada hukum kecuali hukum Allah sendiri”.

Karena kenyataan seperti itu akhirnya mereka merencanakan pembunuhan kepada semua orang yang terlibat dalam peristiwa Tahkim.

3. Mu’tazilah

Pada permulaan abad kedua Hijrah timbul perselisihan pendapat di perguruan Basroh antara Hasan Basri dengan muridnya, Wasil bin ‘Atha (80 -131 H) tentang masalah: “Bagaimanakah hukumnya seseorang muslim yang telah berbuat dosa besar, apakah ia tetap mukmin ataukah ia telah kafir?”Menurut Wasil bin Atha’ orang tersebut hukumnya tidak mukmin dan tidak pula kafir, akan tetapi ia fasik yaitu antara mukmin dan kafir. Baginya bertempat tidak di surga dan tidak pula di neraka. Pendapat tersebut menyimpang dari hukum yang diyakini sebagian besar umat Islam, di mana orang yang berbuat demiklan dinyatakan hukumnya tetap Islam. Dan gara-gara pendapatnya seperti itu mengakibatkan Wasil bin ‘Atha diasingkan dari kalangan Basroh. Dari benih yang ditanamkan Wasil ini, maka lahirlah firqoh baru yang terkenal dengan sebutan Mu’tazilah. Di samping itu Mu’tazilah berpendirian bahwa manusia dengan akalnya, bebas atas segala perbuatan dan tindakannya; ia dapat me-nentukan tentahg baik dan buruk sekalipun tanpa tuntunan agama. Pendapat yang seperti ini akhirnya memberikan ctri yang khas dari Mu’tazilah di mana mereka sangat menonjolkan peranan akal, dan justru karena itu mereka terkenal pula dengan julukan: Golongan Rasionalisme dalam Islam.

4. Firqoh  Qodariyah

Sekelompok umat Islam berpendapat bahwa qadar atau taqdir itu tidak ada. Manusia diberi kebebasan untuk menentukan pilihan dan melakukan perbuatannya. Allah telah menyerahkan sepenuhnya nasib manusia di dalam tangannya sendiri Pendapat seperti ini sesungguhnya timbul dari itikad yang baik juga, sebab mereka bermaksud nntuk mensucikan Allah agar jangan sampai ada seseorang yang beranggapan bahwa perbuatannya yang buruk dan yang jahat itu dinyatakan sebagai ketentuan Allah, dan baginya tidak ada kemampuan menolaknya. Golongan yaag sangat mengagungkan kekuasan dan ikhtiar pada diri manusia sendiri dikenal sebagai Firqoh Qadariyah.

5. Firqoh Jabariyah

Sebaliknya dari Qadariyah, ada golongan yang berusaha juga mensucikan Allah dengan cara yang berbeda titik tolaknya. Mereka berpendapat bahwa Allah berkuasa atas segala-galanya; kehendak dan kekuasan Allah tidak terbatas seperti yang dikatakan oleh sementara orang.Oleh karena itu taqdir Allah sangai menentukan aias diri Manusia semisal bulu yang diterbangkan angin, kemana angin bertiup ke sana pula ia ikut terbang. Golongan ini di kalangan umat islam dikenal sebagai: Firqoh Jabariyah.

 

 

6. Ahmadiyah:

Sekalipun Ahmadiyah bukan mata rantai yang bertalian dengan firqah-firqah di atas, dan  munculnya baru pada abad ke 19 M, namun  karena sering terbaur dengan nama Muhammadiyah hingga orang awam di luar Muhammadiyah suiit membedakan Muhammadiyah dengan Ahmadiyah, maka dipandang perlu di sini dijelaskan secara singkat mengenai Ahmadiyah Apalagi gerakan ini sebagian mempunyai pengertian tersendiri dalam memahami keyakinan-keyakinan pokok syariat Islam. Sejarah kelahirannya kira-kira mulai tahun 1888 M didusun Qadian daerah Punjab India. Karena pendiri gerakan ini adalah Mirza Ghulam Ahmad maka ada yang mengatakan gerakan ini dinisbatkan kepada pendirinya, yakni AHMADIYAH. Sementara itu ada suatu pendapat bahwa nama yang dipakai bukan dinisbatkan pada pendirinya, melainkan dinisbatkan pada diri Rasulullah yang salah satu namanya, adalah Ahmad (surat As-Shaf ayat: 6).

Gerakan Ahmadiyah sekalipun masih dalam ruang lingkup Islam, akan tetapi karena ajarannya banyak yang menyimpang dari paham umum di kalangan umat Islam maka nampaknya agak terasing.

Aliran-aliran dalam Ahmadiyah:

Setelah gerakan Ahmadiyah berdiri beberapa waktu lamanya, danpendiriannya meninggal dunia, maka timbul pcrselisihan di antara para murid dan pendukung-pendukungnya. Puncak perselisihan  mereka  berakhir dengan  timbulnya  dua golongan dalam Ahmadiyah, yaitu:

a. Jama’at Ahmadiyah

Kelompok ini terkenal dengan sebutan Ahmadiyah Qadian. Golongan ini berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah AI Masih yang dijanjikan (mau’ud) yaitu “Masih” kedua yang dijanjikan. “Masih” kedua ini berkedudukan sebagai nabi. Berarti Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi, sekalipun tidak membawa syari’at baru.

la menggambarkan dirinya dengan nabi Muhammad saw. serupa nabi Harun dengan nabi Musa, dan semua orang Islam yaag tidak bai’at kepadanya adalah kafir. Pengikut aliran ini berpegang teguh atas ucapan Mirza Ghulam Ahmad sebagai berikut: “Pintu Nubuwwah (Kenabian) masih tetap terbuka, dan nabi Muhammad bukahlah nabi terakhir”. “Aku (Mirza) bukan nabi baru, ralusan nabi-nabi telah datang se-belumku”. Ahmad. “Aku adalah nabi juga, dan umati juga”. Ahir cath Ahbar’aam. “Aku adalah Al Masih yang dijanjikan dan aku adalah dia itu, oleh Rasulullah dinamakan nabi Allah”. Nuzul Al Masih. “Sesuai dengan perintah Tuhan5 aku adalah nabi, kalau ku ingkari aku berdosa”. Akhircath.

Aliran Ahmadiyah di atas karena jelas menyimpang dari aqidah Islamiyah yang murni maka telah disepakati oleh sebagian besar umat Islam sebagai suatu gerakan di luar Islam, bahkan Ahmadiyah Lahore pun menuduhnya sebagai gerakan yang sesat.  

b. Gerakan Ahmadiyah: terkenal dengah sebutan Ahmadiyah Lahore.

Gerakan ini muncul dan memisahkan diri dari Ahmadiyah Qadian pada tahun 1914 dan merigambil kota Lahore sebagai pusat kegiatannya, dengan pemimpinnya Maulana Muhammad Ali dan Kwaja Kamaluddin. Menurut aliran ini, Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi tetapi hanya Mujaddid atau pembaharu atau Muhaddats, yaitu seorang yang diajak berbicara doleh Tuhan. Sebab dengan pengakuan akan kenabian berarti merendahkan derajat kenabian Muhammad yang sempurna itu. Pengikut aliran ini berpegang pada ucapan Mirza Ghulam Ahmad: “saya menganggap kepada barang siapa yang da’wah kenabian, bahwa orang itu pendusta yang kafir”. Istihar. “Saya mempunyai iman yang teguh, bahwa nabi kita saw, nabi yang terakhir dan sesudah beliau tidak akan lahir nabi baru maupun nabi lama …. melainkan Muhaddats lah yang akan datang itu”. Hammamatul Busyra. “Ini adatah kebohongan sejati yang dikenakan kepada kami, ialah kami mengaku menjadi nabi”. Anjam Atham. “Tidaklah ada pengakuan menjadi nabi, tetapi kami ftiengaku menjadi Muhaddats ini atas perintah Allah”. Izalati Auham. “Mereka itu menuduh kami tidak dengan kenyataan, ialah bahwa kami mengaku menjadi nabi”. Kitabul Bariyyah. Aliran ini dalam sebagian besar keyakinannya hampir sama dengan aliran Islam lainnya. Kecuali yang memberikan ciri tertentu dan membuatnya berbeda adalah adanya keyakinan bahwa pendiri Ahmadiyah adalah seorang Muhaddats, serta da’wahnya sebagai Muhaddats tersebut atas perintah Tuhan. Apa yang sering terdengar dari ucapan Mirza bahwa difinya adalah nabi, maka ucapan tersebut bukannya mengandung pengertian nabi yang sesungguhnya melainkan nabi dalam arti majazi (kiasan).

 

Ciri-ciri aliran Ahmadiyah.

Di samping sifai-sifat ajaranrtya yang menonjol di antara Jama’atAhmadiyah dengan Gerakan Ahmadiyah, Ahmadiyah Qadian dengan Ahmadiyah Lahore mempunyai i’tikad yang berbeda, namun ada titik-titik persamaannya, antara lain:

1. Penolakan terhadap afaiah jihad, sebagai salah satu prinsip dalam Islam. Hal ini menjadi berlawanan dengan firqah Khawarij yang memasukkan jihad sebagai rukun iman yang ke enam. Sedang menurut keyakinan umat Islam pada umumnya masalah jihad adalah diibaratkan semisal “taring”. Islam tanpa jihad seperti harimau tanpa taring.

2. Kedua aliran Ahmadiyah tersebut juga tidak mau semena-mena atau saling kawin dengan umat Islam lainnya. Tidak bersedia melakukan shalat berjarama’ah bersama dengan umat Islam lainnya, baik  mereka  jadi imam ataupun menjadi makmum.

Bab III

PENUTUP

 

3.1        Kesimpulan

Muhammadiyah adalah “Gerakan Islam amar ma’ruf nahi munkar bersumber pada Al-Quran dan Assunnah, yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H. bertepatan dengan tanggal 18 November 1912, di Desa Kauman Kota Jogjakarta. Dalam dinamika kesejarahannya selalu berusaha merespon berbagai perkembangan kehidupan dengan senantiasa merujuk pada ajaran Islam yang bersumber dari dua sumber primer ajaran ini. Untuk mencapai maksud dan tujuannya yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, maka Muhammadiyah melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid yang diwujudkan dalam usaha di segala bidang kehidupan. Dalam pengembangan bidang keagamaan dan dakwah ditangani oleh dua majlis yaitu Majlis Tarjih dan Tajdid (MTT) dan Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus (MT-DK).

 

3.2        Saran

Seperti yang tertera dalam ayat suci Al-Qur’an, bahwa Islam terbagi menjadi 73 bagian, hendaknya kita sebagai umat muslim harus kritis dalam memahami perkembangan Islam di Indonesia, tidak terjerumus ke aliran-aliran sesat atau isme-isme modern yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

There are some reasons to learn English / Foreign Language

Business and Career

From attracting international clients to your company to positioning yourself for a business trip or relocation abroad, here are ways learning a language can help your career.

  1. English isn’t the most commonly spoken language: It’s often spoken at international conferences and in airports, but Mandarin and Spanish are the most commonly spoken languages in the world.
  2. Travel abroad for work: Sure you’d love to travel to France, but can you afford it? If your boss is footing the bill, though, you can enjoy international travel without having to pay for it: your ability to speak the language is your real ticket.
  3. Able to communicate with a broader network: You’ll get to move up in your field more easily if you can speak different languages and network or collaborate at the international level.
  4. Bring international business to your company: Attract international clients and sales to your company by being able to communicate in their native languages.
  5. Make yourself more indispensable: If you bring something extra to the table, like being the only one to speak Japanese or Portuguese, you’re more likely to get hired and less likely to be fired.
  6. Show respect to international colleagues: It’s respectful to speak to a visitor or client in their native tongue, and gives you brownie points, too.
  7. Relocation: You never know when the chance to relocate may pop up out of the blue, and if you already know the language, you may high up on the boss’ list to go.
  8. Keep up with the rest of the world: If you want to stay abreast of the latest research or news in science, engineering, technology or business, you may have to read a Chinese newspaper or journal to get the info, not an English-language one.
  9. Compete with the younger generation: More and more Americans are learning languages, studying abroad and/or are the product of bilingual households, so you’re going to have to keep up with them to remain competitive.
  10. Be more sensitive to cultural differences: By studying grammar — for instance, the different forms of “you” and how they’re used in different languages — you’ll learn how and why to be more sensitive with business contacts who will appreciate your effort.
  11. Cut out the middle man: Save your company — or yourself — the price of an interpreter.
  12. Pick up on the subtleties: By learning more than just business travel-related words, you can pick up on memos, e-mails, jokes and everyday conversation that will help facilitate business relationships.
  13. You’ll get paid more: With such a vital and profit-producing skill, you can command a higher salary.
  14. Be a better advertiser: Whether you actually work in advertising or are just a freelancer, you can sell yourself and your services better if you have a solid understanding of your audience’s culture.
  15. Compete for jobs abroad: Even international companies like the UN and NATO use other languages besides English as an official language.

Personal Benefits

Languages enrich your personal life too, make you feel more confident and capable that you’ve achieved a tough goal, and encourage you to respect other cultures and groups.

  1. Have a better understanding of the world and how we’re all connected: By being able to speak a language with native speakers, you can better understand their culture, background and traditions.
  2. Be happier and sexier: Supposedly it’s proven that people who speak more than one language are richer, happier and seen as being sexier.
  3. Communicate with family members: Speak with foreign in-laws or new friends in their native tongue to bring you closer to them.
  4. Encourages you to respect other cultures: You may have a different view of foreign policy, diplomacy and international aid if you learn more about a new culture.
  5. Gain independence: You’ll feel more confident and self-sufficient if you can speak more than one language.
  6. Help visitors to your city: If you run into some Spanish vacationers — who aren’t proficient in English — in your city, you can better help them with directions or recommendations if you speak their language.
  7. Achieve a new goal or dream: Just accomplishing a dream or goal you’ve always had will make you feel confident and capable.
  8. Impress your date: Recite love poems and pet names in a foreign language.
  9. Improves your reading skills: Studying a language can help you get more out of your own reading, too.
  10. Improve memory: Learning a language helps improve memory.
  11. Order in a restaurant: It brings more to your dining experience if you can order in French at a French restaurant, n’est ce pas?
  12. Make new friends: When you travel, you can actually become lifelong friends with the people you meet if you’re able to communicate easily.
  13. It’s sexy: Mastering new accents and sounds is just plain sexy.
  14. Understand your own culture: You’ll draw connections and comparisons between your culture and your new country of study, giving you the opportunity to understand where you come from and how it’s affected your personality.
  15. Keep your brain active and healthy: Slow down mental aging and keep cognitive decline at bay by challenging yourself with language learning.
  16. More comfortable dealing with unfamiliar situations: Once you know that you can learn something totally new and different, you’ll feel better prepared when faced with uncertain or unfamiliar problems.

Travel and Hobbies

It’s obvious that learning a language can help you become a more confident traveler, but it will also help you get in with the locals, learn more about food, and have fun exploring your own ethnic neighborhoods back home.

  1. Enrich your travel experiences: You could probably get by in Germany without speaking German, but you’ll get so much more out of your trip if you can communicate with everyday people beyond ordering food and buying postcards.
  2. Get on the locals’ good side: If you can speak with a local in their native language, they’ll be friendlier and may turn you on to better spots to visit.
  3. Learn more about food: Read recipes from Italy in Italian using real Italian ingredients, as a way to continue learning about a new culture.
  4. Explore your own city’s ethnic neighborhoods: Order in Spanish at a taqueria, or visit a city like Miami, New York or San Francisco to practice your language.
  5. Study abroad: Even if you missed your chance as an undergrad, many graduate programs support studying abroad.
  6. Actually understand opera and foreign music: Anyone can enjoy the sounds of opera and foreign music, but being able to translate the message means you’ll get more out of it.
  7. Network with people around the world: Find more friends who share your similar interests and hobbies by being able to log onto foreign language forums and social networking sites.

Academic and Education

Whether you’re a linguistics major or a math student, languages sharpen study skills and boost academic prospects and potential, too.

  1. Improve learning skills: Learning a language trains your mind to think in a certain way, improving the way you pick up other skills, too.
  2. Relate to your students: If you’re a teacher and have students from ethnic backgrounds, you can better relate to communicate with, and teach them if you understand the language they speak at home.
  3. Could help you get a scholarship: Being able to speak more than one language could help with admissions or even getting a scholarship.
  4. Think more flexibly: If you can speak more than one language your problem solving and abstract thinking skills will be more flexible and creative.
  5. Improve your English: Learning the complexities of grammar will challenge you to consider English grammar for the first time since middle school.
  6. Improve test scores: Researchers have found that with each year of language study, scores on college and grad school exams go up.
  7. Study linguistics: It will help your research and understanding of the field if you can compare different languages.

Miscellaneous

Keep reading for more ways that learning a language can bring new opportunities to your life.

  1. Appreciate art in its native forms: You can read books in their native languages and watch movies without relying subtitles: ensuring nothing’s lost in translation.
  2. Speak in code: You and your friend or partner can switch languages when you don’t want present company eavesdropping.
  3. Can read and watch foreign news: Get your news from another perspective when you read and watch foreign news.
  4. They’re not all that hard: Not all languages are extremely difficult to learn, and you might be surprised at how easily you can learn one.
  5. It gets easier and easier: Once you’ve picked up Italian, it’ll be easy for you to learn Portuguese and Spanish, too, and then even French.