Poligami

Asal usul poligami 

Banyak orang yang salah paham tentang poligami, mereka mengira bahwa poligami itu baru di kenal setelah islam. Mereka menganggap Islamlah yang membawa ajaran poligami. Pendapat demikian sungguhlah keliru yang benar adalah berabad-abad sebelum islam diwahyukan masyarakat manusia di berbagai belahan dunia telah mengenal dan mempraktekan poligami. Di Jazirah Arab sendiri jauh sebelum islam, masyarakatnya telah mempraktekan poligami, malahan poligami yang tak terbatas.

Perkembangan poligami dalam sejarah manusia mengikuti pola pandang masyarakat terhadap kaum perempuan. Ketika masyarakat memandang perempuan itu hina, maka poligami menjadi subur, sebaliknya pada masa masyarakat memandang kedudukan dan derajat perempuan itu terhormat maka poligami pun berkurang. Jadi, perkembangan poligami mengalami pasang surut mengikuti tinggi-rendahnya kedudukan derajat perempuan di mata masyarakat.

Ketika islam datang kebiasaan poligami itu tidak semerta di hapuskan. Namun setelah ayat yang menyinggung poligami di wahyukan, Nabi lalu melakukan perubahan yang radikal sesuai dengan petunjuk kandungan ayat. 

Pertama membatasi bilangan jumlah istri hanya sampai empat.  Sejumlah riwayat memaparkan pembatasan poligami tersebut, diantaranya riwayat dari Naufal ibn Mu’awiyah. Ia berkata “ketika masuk islam aku mempunyai lima istri, Rasulullah berkata ceraikanlah yang satu dan pertahankan yang empat.”{HR. Muslim}

Kedua, menetapkan syarat yang ketat terhadap poligami yaitu harus mampu berlaku adil. Dalam hal ini islam memperketat syarat poligami supaya kaum laki-laki tidak lagi semena-mena terhadap istri mereka.

Poligami Dalam Islam

Secara garis besar, pandangan ulama secara keseluruhan, tehadap poligami dapat di golongkan pada tiga pendapat dalam sejarah pemikiran islam. Pertama mereka yang memegang ketidakbolehan menikahi wanita lebih dari satu, kecuali dalam kondisi tertentu. Kedua adalah mereka yang meyakini kebolehan menikahi wanita lebih dari satu. Sedang yang ketiga berpendapat bahwa menikahi wanita dari empatpun diperbolehkan. Mereka yang berkeyakinan menikahi wanita lebih dari satu, umumnya dipegangi pemikir islam belakangan, seperti Syah Waliullah, Sayyid ahamd Khan dll. Sedang pendapat kedua di pegang oleh umumnya ulama shalaf. Dan pendapat ketiga di pegang oleh Madhab Dhahiri. 

Landasan Teologis Poligami 

Dalil naqli yang selalu dijadikan landasan pembenaran poligami di kalangan umat Islam adalah surah An-Nisa ayat 3, namun untuk memahami secara baik dan benar mengenai apa yang terkandung di dalam ayat teersebut hendaknya diresapi dahulu makna dua ayat sebelumnya, ayat pertama dan kedua dari surah yang dimaksud.

Ayat pertama yang artinya:
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain , dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu”

Ayat ini berisi peringatan agar manusia bertaqwa kepada Allah. Bahkan, peringatan itu sampai diulangi dua kali, Pertama, manusia di peringatkan bertaqwa kepada Allah sebagai perwujudan kesadaran dirinya. Kedua, manusia diperingatkan bertaqwa kepada Allah karena atas nama-Nya manusia saling meminta satu sama lain.

Ayat kedua yang artinya: 
“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.”. 

Ayat tersebut berisi agar berlaku adil, terutama terhadap anak-anak yatim. Ayat ini secara spesifik berbicara soal anak yatim. Kehidupan bangsa Arab pada zaman jahiliyah tidak pernah sepi dari peperangan, baik peperangan antar suku maupun antar bangsa. Pola kehidupan inilah yang menyebabkan banyaknya jumlah anak yatim karena ayah-ayah mereka gugur dimedan perang. Dalam tradisi Arab jahiliyah pemeliharaan anak-anak yatim menjadi tanggung jawab para walinya. Akan tetapi realitas yang ada menunjukan tidak sedikit para wali yang tidak berlaku adil atau berlaku curang terhadap anak-anak yatim yang berada dalam perlindungan mereka.

Allah sangat mengecam perilaku culas dan tidak adil terhadap anak-anak yatim yang berada dalam asuhan mereka. Maka untuk menghindari perilaku dosa dan zalim tersebut Allah selanjutnya menunjukan jalan keluar sebagaimana terbaca dalam ayat ketiga yang artinya sebagai berikut: 

“Dan kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil , Maka (kawinilah) seorang saja , atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”.

       Ayat ketiga inilah satu-satunya ayat yang selalu dijadikan alasan pembenaran dan menjadi dalil pamungkas bagi kebolehan poligami. Para mufassir sepakat bahwa sabab nujul ayat ini berkenaan dengan perbuatan para wali yang tidak adil terhadap anak-anak yatim yang berada dalam perlindungan mereka.

As-Syawkani{w. 1250/1832} menyebutkan sebab turunnya ayat ini berhubungan dengan kebiasaan orang Arab pra-islam dimana para wali yang ingin menikahi anak yatim, tidak memberikan mahar yang jumlahnya sama dengan mahar yang diberikan kepada wanita itu. Karena itu, kalau ia tidak bisa sama antara wanita yang yatim dan non yatim, Allah menyuruh untuk menikahi wanita non yatim saja, maksimal empat wanita, dengan syarat bisa berbuat adil. Sedang kalau tidak bisa berbuat adil maka cukup satu saja.

Menurut Abduh disinggungnya persoalan poligami dalam konteks pembicaraan anak yatim bukan tanpa alasan. Hal ini memberikan pengertian bahwa persoalan poligami identik dengan persoalan anak yatim. Mengapa persoalan poligami di samakan dengan persoalan anak yatim? Tidak lain, karena dalam dua persoalan tersebut terkandung persoalan yang sangat mendasar yaitu persoalan keadilan. Dalam Al-Qur’an kelompok anak-anak yatim dan perempuan sering di sebut Al-mustadh’afin { yang di lemahkan}, hak-hak mereka lemah karena tidak dilindungi.

Sayyid Qutub{w.1966} mengatakan bahwa poligami merupakan perbuatan rukhsah. Karena merupakan rukhsah, maka bisa dilakukan dalam keadaan darurat, yang benar-benar mendesak. Kebolehan ini pun masih disyaratkan bisa berbuat adil terhadap isteri-isteri. Keadilan yang dituntut disini dalam bidang nafkah, mu’amalat, pergaulan serta pembagian malam. Sedang bagi calon suami yang tidak bisa berbuat adil, maka diharuskan cukup satu saja. Sementara bagi yang bisa berbuat adil terhadap istrinya, boleh poligami hanya empat istri.

Menurut Al Maraghi alasan-alasan yang memperbolehkan berpoligami adalah :

  1. karena isteri mandul, sementara salah satunya atau keduanya sangat mangharapkan keturunan.
  2. apabila suami memiliki seks yang tinggi, sementara isteri tidak mampu meladeni sesuai kebutuhannya.
  3. kalau si suami memiliki harta yang banyak untuk membiayai segala kepentingan keluarga, mulai dari kepentingan istri sampai kepentingan anak-anak.
  4. kalau jumlah wanita melebihi jumlah pria, yang bisa sebabkan karena perang, ataupun suatu masyarakat yang memang jumlah wanitanya lebih banyak dari pada laki-laki.

Adapun hikmah diizinkannya berpoligami dalam keadaan darurat dengan syarat berlaku adil antara lain ialah sebagai berikut :

  1. Untuk mendapatkan keturunan bagi suami yang subur dan istri yang mandul.
  2. Untuk menjaga keutuhan keluarga tanpa menceraikan istri, sekalipun isteri tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai istri, atau ia mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
  3. Untuk menyelamatkan suami yang hypersex dari perbuatan zina dan krisis akhlak lainnya.
  4. Untuk menyelamatkan kaum wanita dari krisis akhlak yang tinggal Negara/masyrakat yang jumlah wanitanya jauh lebih banyak dari kaum wanitanya.

Mengenai hikmah Nabi Muhammad diizinkan beristri lebih dari seorang bahkan melebihi jumlah maksimal yang diizinkan bagi umatnya ialah sebagai berikut: 

  1. Untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran agama. Istri nabi beristri Sembilan itu bisa menjadi informasi bagi umat islam yang ingin mengetahui ajaran-ajaran nabi dan praktek kehidupan nabi dalam berkeluarga dan bermasyarakat, terutama mengenai masalah-masalah kewanitaan atau kerumahtanggaan.
  2. Untuk kepentingan politik mempersatukan suku-suku bangsa Arab dan untuk menarik mereka untuk masuk islam. Misalnya perkawinan Nabi dengan Juwairiyah, putri Al-Harits kepala suku Bani Musthaliq.
  3. Untuk kepentingan social dan kemanusiaan. Misalnya perkawinan Nabi dengan beberapa janda pahlawan Islam yang telah lanjut usianya seperti Saudah binti Jum’ah( Suaminya meninggal setelah kembali dari hijrah Abesinia ), Hafsah binti Umar ( suaminya gugur ketika perang uhud ).

Jelaslah, bahwa perkawinan Nabi dengan sembilan istrinya itu tidaklah terdorong oleh kepuasan nafsu seks dan kenikmatan seks. Sebab kalau kalau motifnya demikian, tentunya nabi mengawini gadis-gadis dari kalangan bangsawan dan dari berbagai suku pada masa Nabi masih berusia muda.

Poligami dalam perundang-undangan di Indonesia

Seiring dengan perkembangan pemikiran, dalam operasinalisasinya mengalami hal sama, bahwa peluang melakukan poligami semakin di persempit dalam perundang-undangan keluarga, di Negara-negara islam di Dunia.

Di Indonesia sendiri poligami telah disebutkan dalam undang-undang No. 1/1974 ialah sebagai berikut:

1. Pasal 3 ayat {2} 
{2}Pengadilan dapat member izin kepada suami untuk beristri lebih dari satu orang apabila di kehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan.

2. Pasal 4 ayat{2} 
Pengadilan yang di maksud dalam ayat {1} pasal ini hanya memberikan izin kepada seorang suami yang ingin beristri lebih dari satu apabila:
a) Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
b) Istri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
c) Istri tidak dapat melahirkan keturunan.

3. Pasal 5 
1) Untuk dapat mengajukan permohonan kepada pengadilan sebagaimana yang di maksud Pasal 4 ayat {1} Undang-undang ini, harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a) Adanya persetujuan dari istri/istri-istri
b) Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup istri-istri dan anak-anak mereka.
c) Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anak mereka.
2) Persetujuan dalam ayat {1} huruf a pasal ini tidak di perlukan bagi seorang suami apabila istri-istrinya tidak mungkin di mintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian, atau apabila tidak ada kabar dari istrinya selama sekurang-kurangnya 2 tahun, atau karena sebab-sebab lainnya yang perlu mendapat penilaian dari Hakim pengadilan.

4. Pasal 55 
1) Beristri lebih dari satu orang pada waktu bersamaan, terbatas hanya sampai empat orang istri.
2) Syarat utama beristri dari seorang, suami harus mampu berlaku adil terhadap istri-istri dan anak-anaknya.
3) Apabila syarat utama yang disebut dalam ayat {2} tidak mungkin dipenuhi, suami dilarang beristri lebih dari seorang.

5. Pasal 56 
1) Suami yang hendak beristri lebih dari satu orang harus mendapat izin dari peradilan agama.
2) Pengajan permohonan izin dimaksud pada ayat {1} dilakukan menurut tata cara sebagaimana diatur dalam Bab VIII Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975.
3) Perkawinan yang dilakukan dengan istri kedua, ketiga, atau keempat tanpa izin dari Pengadilan Agama, tidak mempunya kekuatan hukum.

6. Pasal 58 
1) Selain syarat utama yang disebut pada pasal 55 ayat{2} maka untuk memperoleh izin Pengadilan Agama, harus pula dipenuhi syarat-syarat yang ditentukan pada pasal 5 UU No 1 Tahun 1974.

7. Pasal 59 
Dalam hal istri tidak mau memberikan persetujuan dan permohonan izin untuk beristri lebih dari satu orang berdasarkan atas salah satu alasan yang diatur dalam pasal 55 ayat{2} dan 57, Pengadilan Agama dapat menetapkan tentang pemberian izin setelah memeriksa dan mendengar istri yang bersangkutan di persidangan Pengadilan Agama, dan terhadap penetapan ini istri atau suami dapat mengajukan banding atau kasasi.

Don't forget to comment it

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s