Manajemen Peserta Didik

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Manajemen peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah.  Knezevich (1961) mengartikan manajemen peserta didik atau pupil personal administration sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individual seperti pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah.

Secara sosiologis, peserta didik mempunyai kesamaan-kesamaan. Adanya kesamaan-kesamaan yang dipunyai anak inilah yang melahirkan kensekuensi kesamaan hak-hak yang mereka punyai. Kesamaan hak-hak yang dimiliki oleh anak itulah, yang kemudian melahirkan layanan pendidikan yang sama melalui sistem persekolahan (schooling). Dalam sistem demikian, layanan yang diberikan diaksentuasikan kepada kesamaan-kesamaan yang dipunyai oleh anak. Pendidikan melalui sistem schooling dalam realitasnya memang lebih bersifat massal ketimbang bersifat individual. Layanan yang lebih diaksentuasikan kepada kesamaan anak  yang bersifat massal ini, kemudian digugat.

Gugatan demikian, berkaitan erat dengan pandanganpsikologis mengenai anak. Bahwa setiap individu pada hakekatnya adalah berbeda. Oleh karena berbeda, maka mereka membutuhkan layanan-layanan pendidikan yang berbeda.

Layanan atas kesamaan yang dilakukan oleh sistem schooling tersebut dipertanyakan, dan sebagai responsinya kemudian diselipkan layanan-layanan yang berbeda pada sistem schooling tersebut.

Adanya dua tuntutan pelayanan terhadap siswa,– yakni aksentuasi pada layanan kesamaan dan perbedaan anak–, melahirkan pemikiran pentingnya manajemen peserta didik  untuk mengatur bagaimana agar tuntutan dua macam layanan tersebut dapat dipenuhi di sekolah.

Baik layanan yang teraksentuasi pada kesamaan maupun pada perbedaan peserta didik, sama-sama diarahkan agar peserta didik berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa tujuan dan fungsi dari Manajemen Pesrta Didik ?

2. Apa prinsip-prinsip Manajemen Peserta Didik ?

3. Apa saja pendekatan Manajemen Peserta Didik ?

4. Apa saja layanan khusus yang menunjang peserta didik ?

1.3 Tujuan

Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Manajemen Pendidikan. Selain itu, kami ingin mengetahui apa tujuan, fungsi, prinsip-prinsip dan pendekatan serta layanan khusus yang menunjang manajemen peserta didik.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Tujuan dan Fungsi Manajemen Peserta Didik

Tujuan umum manajemen peserta didik adalah: mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah; lebih lanjut, proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan.

Sedangkan tujuan khusus manajemen peserta didik adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan psikomotor peserta didik, menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan), bakat dan minat peserta didik dan menyalurkan aspirasi, harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik.

Dengan terpenuhinya tujuan tersebut, diharapkan peserta didik dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang lebih lanjut dapat belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka.

Fungsi manajemen peserta didik secara umum sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya, segi sosialnya, segi aspirasinya, segi kebutuhannya dan segi-segi potensi peserta didik lainnya.

Sedangkan fungsi manajemen peserta didik secara khusus dirumuskan sebagai berikut:

  • Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan individualitas peserta didik, ialah agar mereka dapat mengembangkan potensi-potensi individualitasnya tanpa banyak terhambat. Potensi-potensi bawaan tersebut meliputi: kemampuan umum (kecerdasan), kemampuan khusus (bakat), dan kemampuan lainnya.
  • Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan fungsi sosial peserta didik ialah agar peserta didik dapat mengadakan sosialisasi dengan sebayanya, dengan orang tua dan keluarganya, dengan lingkungan sosial sekolahnya dan lingkungan sosial masyarakatnya. Fungsi ini berkaitan dengan hakekat peserta didik sebagai makhluk sosial.
  • Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan peserta didik, ialah agar peserta didik tersalur hobi, kesenangan dan minatnya. Hobi, kesenangan dan minat peserta didik demikian patut disalurkan, oleh karena ia juga dapat menunjang terhadap perkembangan diri peserta didik secara keseluruhan.
  • Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik ialah agar peserta didik sejahtera dalam hidupnya. Kesejahteraan demikian sangat penting karena dengan demikian ia akan juga turut memikirkan kesejahteraan sebayanya.

2.2 Prinsip-Prinsip Manajemen Peserta Didik

Yang dimaksudkan dengan prinsip adalah sesuatu yang harus dipedomani dalam melaksanakan tugas. Jika sesuatu tersebut sudah tidak dipedomani lagi, maka akan tanggal sebagai suatu prinsip. Prinsip manajemen peserta didik mengandung arti bahwa dalam rangka memanaj peserta didik, prinsip-prinsip yang disebutkan di bawah ini haruslah selalu dipegang dan dipedomani. Adapun prinsip-prinsip manajemen peserta didik tersebut adalah sebagai berikut:

Manajemen peserta didik dipandang sebagai bagian dari keseluruhan manajemen sekolah. Oleh karena itu, ia harus mempunyai tujuan yang sama dan atau mendukung terhadap tujuan manajemen secara keseluruhan. Ambisi sektoral manajemen peserta didikB tetap ditempatkan dalam kerangka manajemen sekolah. Ia tidak boleh ditempatkan di luar sistem manajemen sekolah.

Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik haruslah mengemban misi pendidikan dan dalam rangka mendidik para peserta didik. Segala bentuk kegiatan, baik itu ringan, berat, disukai atau tidak disukai oleh peserta didik, haruslah diarahkan untuk mendidik peserta didik dan bukan untuk yang lainnya.

Kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik haruslah diupayakan untuk mempersatukan peserta didik yang mempunyai aneka ragam latar belakang dan punya banyak perbedaan. Perbedaan-perbedaan yang ada pada peserta didik, tidak diarahkan bagi munculnya konflik di antara mereka melainkan justru mempersatukan dan saling memahami dan menghargai.

Kegiatan manajemen peserta didik haruslah dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbingan peserta didik. Oleh karena membimbing, haruslah terdapat ketersediaan dari pihak yang dibimbing. Ialah peserta didik sendiri. Tidak mungkin pembimbingan demikian akan terlaksana dengan baik manakala terdapat keengganan dari peserta didik sendiri.

Kegiatan manajemen peserta didik haruslah mendorong dan memacu kemandirian peserta didik. Prinsip kemandirian demikian akan bermanfaat bagi peserta didik tidak hanya ketika di sekolah, melainkan juga ketika sudah terjun ke masyarakat. Ini mengandung arti bahwa ketergantungan peserta didik haruslah sedikit demi sedikit dihilangkan melalui kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik.

Apa yang diberikan kepada peserta didik dan yang selalu diupayakan oleh kegiatan manajemen peserta didik haruslah fungsional bagi kehidupan peserta didik baik di sekolah lebih-lebih di masa depan.

2.3 Pendekatan Manajemen Peserta Didik

Ada dua pendekatan yang digunakan dalam manajemen peserta didik (Yeager, 1994).

  1. Pendekatan kuantitatif (the quantitative approach).

Pendekatan ini lebih menitik beratkan pada segi-segi administratif dan birokratik lembaga pendidikan. Dalam pendekatan demikian, peserta didik diharapkan banyak memenuhi tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan lembaga pendidikan di tempat peserta didik tersebut berada. Asumsi pendekatan ini adalah, bahwa peserta didik akan dapat matang dan mencapai keinginannya, manakala dapat memenuhi aturan-aturan, tugas-tugas, dan harapan-harapan yang diminta oleh lembaga pendidikannya.

Wujud pendekatan ini dalam manajemen peserta didik secara operasional adalah: mengharuskan kehadiran secara mutlak bagi peserta didik di sekolah, memperketat presensi, penuntutan disiplin yang tinggi, menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Pendekatan demikian, memang teraksentuasi pada upaya agar peserta didik menjadi mampu.

  1. Pendekatan kualitatif (the qualitative approach).

Pendekatan ini lebih memberikan perhatian kepada kesejahteraan peserta didik. Jika pendekatan kuantitatif di atas diarahkan agar peserta didik mampu, maka pendekatan kualitatif ini lebih diarahkan agar peserta didik senang. Asumsi dari pendekatan ini adalah, jika peserta didik senang dan sejahtera, maka mereka dapat belajar dengan baik serta senang juga untuk mengembangkan diri mereka sendiri di lembaga pendidikan seperti sekolah. Pendekatan ini juga menekankan perlunya penyediaan iklim yang kondusif dan menyenangkan bagi pengembangan diri secara optimal.

Di antara kedua pendekatan tersebut, tentu dapat diambil jalan tengahnya, atau sebutlah dengan pendekatan padu. Dalam pendekatan padu demikian, peserta didik diminta untuk memenuhi tuntutan-tuntutan birokratik dan administratif sekolah di satu pihak, tetapi di sisi lain sekolah juga menawarkan insentif-insentif lain yang dapat memenuhi kebutuhan dan kesejahteraannya. Di satu pihak siswa diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas berat yang berasal dari lembaganya, tetapi di sisi lain juga disediakan iklim yang kondusif untuk menyelesaikan tugasnya. Atau, jika dikemukakan dengan kalimat terbalik, penyediaan kesejahteraan, iklim yang kondusif, pemberian layanan-layanan yang andal adalah dalam rangka mendisiplinkan peserta didik, penyelesaian tugas-tugas peserta didik.

(Dikutif dari Buku Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah oleh Prof. Dr. Ali Imron dan blog Akhmad Sudrajat)

2.4  Layanan Khusus yang Menunjang Manajemen Peserta Didik

  1. Layanan Bimbingan dan Konseling

Dalam PP No. 28 tahun 1990 tentang pendidikan dasar dan PP No. 29 tahun 1990 tentang pendidikan menengah digunakan istilah bimbingan. Pengertian bimbingan menurut PP. No. 29 tahun 1990 Bab X pasal 27, yaitu bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan. Bimbingan diberikan oleh guru pembimbing. Menurut Hendyat Sutopo bimbingan adalah proses bantuan yang diberikan kepada siswa dengan memperhatikan kemungkinan dan kenyataan tentang adanya kesulitan yang dihadapi dalam rangka perkembangan yang optimal, sehingga mereka memahami dan mengarahkan diri serta bertindak dan bersikap sesuai dengan tuntunan dan situasi lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.

a. Fungsi bimbingan disekolah ada 3 yaitu :

  1. Fungsi penyaluran, yaitu membantu peserta didik dalam memilih jenis sekolah lanjutannya, memilih program, memilih lapangan pekerjaan sesia dengan bakat dan cita-citanya.
  2. Fungsi pengadaptasian, yaitu membantu guru atau tenaga edukatif lainnya untuk menyesuaikan program pengajaran yang disesuaikan dengan minat, kemampuan dan cita-cita peserta didik.
  3. Fungsi penyesuaian, yaitu membantu peserta didik dalam menyesuaikan diri dengan bakat, minat dan kemampuannya untuk mencapai perkembanagan yang optimal.

b. Tujuan dilakukannya bimbingan disekolah :

  1. Mengembangkan pengertian dan pemahaman diri
  2. Mengembangkan pengetahuan tentang jenjang pendidikan dan jenis pekerjaan serta persyaratannya
  3. Mengembangkan pengetahuan tentang berbagai nilai dalam kehidupan keluarga dan masyarakat
  4. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah
  5. Mengembangkan kemampuan merencanakan masa depan dengan bertolak pada minat, bakat dan kemampuannya
  6. Mengatasi kesulitan dalam memahami dirinya, lingkungannya, dan berbagai nilai
  7. Mengatasi kesulitan dalam menyalurkan minat dan bakatnya dalam perencanaan masa depan baik yang menyangkut pendidikan maupun pekerjaan maupun pekerjaan yang tepat
  8. Mengatasi kesulitan dalam belajar dan hubungan sosial
  1. Layanan Perpustakaan

Perpustakaan merupakan salah satu unit yang memberikan layanan kepada peserta didik, dengan maksud membantu dan menunjang proses pembelajaran di sekolah, melayani informasi – informasi yang dibutuhkan serta memberikan layanan rekreatif melalui koleksi bahan pustaka.

Perpustakaan sekolah merupakan perangkat kelengkapan pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Keberadaan perpustakan di sekolah sangatlah penting. Perpustakaan sekolah sering disebut sebagai jantungnya sekolah, karena menjadi denyut nadi proses pembelajaran disekolah adalah perpustakaan. Perpustakaan juga dipandang sebagai kunci bagi ilmu pengetahuan dan inti setiap proses pembelajaran di sekolah.

a. Tujuan perpustakaan sekolah :

  1. Mengembangkan minat, kemampuan dan kebiasaan membaca khusunya serta mendayagunakan budaya tulisan.
  2. Memdidik peserta didik agar mampu memelihara dan memanfaatkan bahan pustaka secara efektif dan efisien
  3. Meletakkan dasar kearah belajar mandiri
  4. Memupuk minat dan bakat
  5. Mengembangkan kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari atas usaha dan tanggung jawab sendiri.

b. Fungsi perpustakaan sekolah sebagai pelengkap pendidikan, yaitu :

  1. Menyerap dan menghimpun informasi guna kegiatan belajar mengajar
  2. Menyediakan sumber-sumber rujukan yang tepat untuk kegiatan konsultasi bagi peserta dan pendidik
  3. Menyediakan bahan-bahan yang bermanfaat bagi kegiatan rekreatif yang berkaitan dengan bidang budaya dan dapat meningkatkan selera mengembangkan daya kreatif
  4. Melaksanakan layanan perpustakaan yang sederhana, mudah dan menarik sehingga pendidikan peserta didik tertarik dan terbiasa dalam menggunakan fasilitas perpustakaan.

Ada tiga jenis layanan perpustakaan sesuai dengan sasaran yang ditujunya, yaitu :

  1. Layanan kepada guru, meliputi kegiatan berikut :
  • Meningkatkan pengetahuan guru mengenai subjek yang menjadi bidang
  • Membantu guru dalam mengajar di kelas dengan menyediakan alat audio-visual dll
  • Menyediakan bahan pustaka pesanan yang diperlukan mata pelajaran tertentu
  • Menyediakan bahan informasi bagi kepentingan penelitian yang diperlukan oleh guru dalam rangka mengingkatkan profesinya
  • Untuk SD menyediakan jam bercerita, pembacaan buku, dan permainan boneka
  • Mengisi jam yang kosong
  1. Layanan kepada peserta didik, meliputi :
  • Menyediakan bahan pustaka yang memperkaya dan memperluas cakrawala kurikulum
  • Menyediakan bahan pustaka yang dapat membantu peserta didik memperdalam pengetahuannya mengenai subjek yang diminatinya
  • Menyediakan bahan untuk meningkatkan keterampilan
  • Menyediakan kemudahan untuk membantu peserta didik mengadakan penelitian
  • Meningkatkan minat baca peserta didik dengan cara mengadakan bimbingan membaca, bagaimana menggunakan perpustakaan, mengenalkan jenis-jenis koleksi, buku, bercerita, membaca keras, membuat isi ringkas, kliping dll.
  1. Layanan terhadap manajemen sekolah
  • Sebagai perangkat pendidikan di sekolah
  • Unit pelaksana teknis
  • Mata rantai dalam sistem nasional layanan perpustakaan
  • Sebagai perangkat pendidikan di sekolah, perpustakaan merupakan bagian integral dari sekolah. Perpustakaan berfungsi sebagai pusat belajar dan mengajar, pusat informasi, pusat penelitian sederhana dan rekreasi sehat. Sebagai unit pelaksana teknis di sekolah, perpustakaan sekolah dipimpin oleh seorang kepala perpustakaan yang di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala sekolah. Perpustakaan sekolah melaksanakan kegiatan teknis yang mencakup keadaan, pengolahan, penyusunan buku dan katalog. Sedangkan kegiatan layanan sirkulasi, layanan buku rujukan dan layanan baca.
  1. Layanan Kantin atau Cafetaria

Kantin atau warung sekolah diperlukan adanya di tiap sekolah supaya makanan yang dibeli peserta didik terjamin kebersihannya dan cukup mengandung gizi. Para guru diharapkan sekali-kali mengontrol kantin sekolah dan berkonsultasi dengan pengelola kantin mengenai makanan yang bersih dan bergizi. Peranan lain kantin sekolah yaitu supaya para peserta didik tidak berkeliaran mencari makanan keluar lingkungan sekolah.

Pengelola kantin sebaiknya dipegang oleh orang dalam atau keluarga karyawan sekolah yang bersangkutan, agar sega;a makanan yang dibuang di kantin tersebut terjamin dan bermanfaat badi peserta didik.

  1. Layanan Kesehatan

Layanan kesehatan di sekolah biasanya dibentuk sebuah wadah bernama usaha kesehatan sekolah (UKS). Usaha kesehatan Sekolah adalah usaha kesehatan masyarakat yang dijalankan di sekolah.

Sasaran utama UKS adalah untuk meningkatkan atau membina kesehatan murid dan lingkungan hidupnya. Program UKS adalah sbb :

  1. Mencapai lingkungan hidup yang sehat
  2. Pendidikan kesehatan
  3. Pemeliharaan kesehatan di sekolah

Gedung sekolah merupakan tempat para peserta didik belajar dan menghabiskan sebagian waktunya. Karena itu sekolah hemdaknya memenuhi persyaratan “School Plan”, misalnya gedung sekolah harus ditanami rumput, air yang bersih, WC tersedia dan memenuhi persyaratan serta dibersihkan setiap hari, ruangan kelas harus bersih dan nyaman. Inilah yang dimaksud dengan mencapai lingkungan hidup sekolah.

Peranan guru sangat besar dalam pendidikan kesehatan. Guru harus menegur peserta didiknya yang berpakaian dan berbadan kotor, sewaktu-waktu guru mengajak peserta didik untuk membersihkan lingkungan sekolah/kerja bakti. Pemeriksaan umum maupun khusus diadakan secara berkala. Sejak masuk kelas satu hari sudah mulai diajarkan hidup sehat, lingkungan sehat, pemberantasan penyakit, sehingga peserta didik terpelihara kesehatan jasmani dan rohaninya.

Penyelenggara UKS memerlukan kerja sama antara seluruh warga sekolah. Setiap warga sekolah hemdaknya menjalankan tugasnya sebaik-baiknya. Kepala sekolah dan guru sebagai penanggunag jawab umum, sedangkan peserta didik membantu pelaksaan UKS, dengan piket secaa bergiliran. Disamping itu penanggung jawab umum, hendaknya ada penanggung jawab bidang pendidikan kesehatan, bidang kebersihan lingkungan kelas sehat, bidang pemeliharaan (pemeriksaan/pemeliharaan) kesehatan dan penanggung jawab mengenai usaha-usaha yang dijalankan sekolah (misalnya : kantin sekolah, usaha berternak, bertelur dll).

  1. Layanan Transportasi Sekolah

Sarana angkutan (transportasi) bagi para peserta didik merupakan salah satu penunjang untuk kelancaran proses belajar mengajar. Para peserta didik akan merasa aman dan dapat masuk/keluar sekolah dengan waktu yang tepat. Transportasi diperlukan terutama bagi para peserta didik ditingkat prasekolah dan pendidikan dasar. Penyelenggaraan transportasi sebaiknya dilaksanakan oleh sekolah yang bersangkutan atau pihak swasta (misalnya dengan cara abodemen).

  1. Layanan Asrama

Manfaat asrama bagi peserta didik yaitu :

  • Tugas sekolah dapat dikerjakan dengan cepat dan sebaik-baiknya terutama jika berbentuk tugas kelompok.
  • Sikap dan tingkah laku peserta didik dapat diawasi oleh petugas asrama dan para pendidik
  • Jika diantara peserta didik mempunyai kesulitan (kiriman dari orang tua terlambat, sakit dsb) dapat saling membantu
  • Meringankan kecemasan orang tua terhadap putra-putrinya
  • Dapat juga merupakan salah satu cara untuk mengendalikan tingkah laku remaja yang kurang baik.

Manfaat asrama bagi pendidik/petugas asrama :

  • Mengetahui, memahami dan menguasai tingkah laku peserta didik, bukan hanya terbatas di sekolah tetapi juga di luar sekolah
  • Guru dapat dengan cepat mengontrol tugas yang diberikan kepada peserta didik.

2.5 Studi Kasus

Setiap tahun ajaran baru, sekolah disibukkan oleh kegiatan penerimaan siswa baru. Sebelum kegiatan ini dimulai, Kepala sekolah terlebih dahulu membentuk panitia berdasarkan pedoman dari Dinas Pendidik setempat. Panitia yang sudah dibentuk diformalkan dengan menggunakan Surat Keputusan (SK). Keputusan (SK) Kepala Sekolah. Susunan panitia sebagai berikut.

            Ketua              : Kepala Sekolah

            Sekretaris I      : Wakil kepala Sekolah Urusan Kesiswaan

            Sekretaris II    : Kepala TU

            Bendahara       : Bendahara Sekolah

            Anggota          : TU dan Guru (jumlah sesuai kebutuhan)

Setelah terbentuk panitia, langkah selanjutnya pembuatan pengumuman kepada masyarakat, agar para calon pendaftar mengatahui syarat-syarat memasuki sekolah tersebut. Berikut contoh pengumuman tersebut.

Kegiatan sekolah berikutnya adalah melaksanakan seleksi bagi calon siswa yang mendaftar di sekolah yang bersangkutan. Dari hasil seleksi ini ditentukan peserta didik yang diterima di sekolah tersebut. Biasanay ada tiga kebijakan sekolah dalam penentuan peserta didik yang diterima, yaitu peserta didik yang diterima, peserta didik yang cadangan untuk diterima dan peserta didik yang tidak diterima. Bagi peserta didik yang diterima langsung melakukan daftar ulang dan melengkapi persyaratan yang telah ditentukan sekolah.

Setelah peserta didik diterima pada suatu sekolah. Pihak sekolah mempunyai tanggung jawab untuk memberikan suatu program penyesuaian calon peserta didik kepada situasi sekolah mereka yang baru. Program ini yang disebut sebagai masa orientasi. Masa orientasi ini dilakukan dalam beberapa hari (biasanya di sekolah dilakukan dalam sepekan). Dalam orientasi ini diperkenalkan lingkungan fisik sekolah dan lingkungan sosial sekolah. Bahkan secara rinci orientasi ini memperkenalkan tata tertib sekolah, guru dan staf TU sekolah, perpustakaan sekolah, layanan khusus yang ada di sekolah, program studi di sekolah, cara belajar efektif dan efisien di sekolah, serta organisasi kesiswaan yang ada di sekolah.

Setelah siswa selesai mengikuti masa orientasi, dilakukan pembagian kelas. Pembagian kelas di sekolah biasanya menggunakan tipe kelas yang heterogen tanpa ada pertimbangan menempatkan kelas berdasarkan suku, nilai, agama maupun gender. Pembagian kelas ini tentu saja dibagi berdasarkan rasio dengan ruang kelas yang ada. Setelah terbentuk kelas, barulah peserta didik mengikuti program pembelajaran dalam bentuk mata pelajaran/bidang studi yang harus ditempuh oleh peserta didik selama di kelas tersebut. Di samping itu, siswa juga bisa mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi di sekolah yang sifatnya extrakulikuler dengan dilakukan di luar jam mata pelajaran.

Dalam proses pembelajaran ini dilakukan penilaian terhadap peserta didik. Penilaian ini dilakukan untuk melihat kemajuan peserta didik dan menentukan baik/tidak naik kelas berikutnya (bagi kelas satu atau dua), serta penentuan kelulusan bagi kelas tiga. Hasil penilaian yang dilakukan oleh pihak sekolah ini dilaporkan kepada orang tua/wali siswa. Laporan kepada orang tua tersebut lazim disebut buku raport. Sedangkan siswa yang lulus dari sekolah diberikan Ijazah/STTB.

2.6 EVALUASI KEGIATAN PESERTA DIDIK

Menurut Wand dan Brown (dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2002;57), evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Evaluasi hasil belajar peserta didik berarti kegiatan menilai proses dan hasil belajar siswa baik yang berupa kegiatan kurikuler, ko-kurikuler, maupun ekstrakurikuler.

Penilaian hasil belajar bertujuan untuk melihat kemajuan belajar peserta didik dalam hal penguasaan materi pengajaran yang telah dipelajarinya sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Pasaribu dan Simanjuntak (dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2002;58), menyatakan bahwa :

Tujuan umum dari evaluasi peserta didik adalah :

  1. Mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan peserta didikdalam mencapai tujuan yang diharapkan
  2. Memungkinkan pendidik/guru menilai aktifitas/pengalaman yang didapat
  3. Menilai metode mengajar yang digunakan

Tujuan khusus dari evaluasi peserta didik adalah :

  1. merangsang kegiatan peserta didik
  2. menemukan sebab-sebab kemajuan atau kegagalan belajar peserta didik
  3. memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan danbakat siswa yang bersangkutanuntuk memperbaiki mutu pembelajaran/cara belajar dan metode mengajar.

Berdasarkan tujuan penilaian hasil belajar tersebut, ada beberapa fungsi penilaian yang dapat dikemukakan antara lain:

  1. Fungsi selektif

Dengan mengadakan evaluasi, guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi atau penilaian terhadap peserta didiknya. Evaluasi dalam hal ini bertujuan untuk : memilih peserta didik yang dapat diterima di sekolah tertentu, memilih peserta didik yang dapat naik kelas atau tingkat berikutnya, memeilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa, memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah, dan sebagainya.

  1. Fungsi diagnostik

Apabila alat yang digunakan dalam evaluasi cukup memenuhi persyaratan, dengan melihat hasilnya guru akan dapat mengetahui kelemahan peserta didik, sehingga lebih mudah untuk mencari cara mengatasinya.

  1. Fungsi penempatan

Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan peserta didik adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang peserta didik harus ditempatkan.

  1. Fungsi pengukur keberhasilan program

Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana sustu program berhasil diterapkan. Secara garis besar ada dua macam alat evaluasi, yaitu tes dan non tes. Dalam penggunaan alat evaluasi yang berupa tes, hendaknya guru membiasakan diri tidak hanya menggunakan tes obyektif saja tetapi juga diimbangi dengan tes uraian. Tes adalah penilaian yang komprehensif terhadap seorang individu atau keseluruhan usaha evaluasi program. Dalam suatu kelas, tes mempunyai fungsi ganda, yaitu untuk mengukur keberhasilan peserta didik dan untuk mengukur keberhasilan program pengajaran. Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur keberhasilan peserta didik, ada tiga jenis tes, yaitu :

  1. Tes diagnostik

Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan peserta didik sehingga berdasarkan kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat. Kedudukan diagnosis adalah dalam menemukan letak kesulitan belajar peserta didik dan menentukan kemungkinan cara mengatasinya dengan memperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar.

  1. Tes Formatif

Tes formatif atau evaluasi formatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah terbentuk setelah mengikuti suatu program tertentu. Jenis penilaian ini juga berfungsi untuk memperbaiki proses belajar mengajar.

  1. Tes Sumatif

Tes sumatif atau evaluasi sumatif dilaksanakan setelah berakhir pemberian sekelompok program atau pokok bahasan. Jenis penilaian ini berfungsi untuk menentukan angka kemajuan hasil belajar peserta didik. Hasil evaluasi terhadap peserta didik tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan memberikan umpan balik. Ada dua kegiatan dalam menindaklanjuti hasil penilaian peserta didik, antara lain :

  1. Program remedial

Dalam hal pengajaran remedial, kegiatan ini dilakukan dengan beberapa alasan, antara lain :

  • Masih banyak peserta didik yang menunjukkan belum dapat mencapai prestasibelajar yang diharapkan
  • Guru bertanggung jawab atas keseluruhan proses pendidikan, yang berartibertanggung jawab atas tercapainya tujuan pendidikan melalui pencapaianstandar kompetensi yang diharapkan.
  • Pengajaran remedial diperlukan dalam rangka melaksanakan proses belajar yangsebenarnya, yaitu sebagai proses perubahan tingkah laku secara keseluruhan.
  • Pengajaran remedial merupakan salah satu bentuk pelayanan bimbingan danpenyuluhan melalui interaksi belajar mengajar.Pengajaran remedial mempunyai arti terapeutik, maksudnya dalam proses pengajaran remedial secara langsung maupun tidak langsung juga menyembuhkan beberapa gangguan atau hambatan yang berkaitan dengan kesulitan belajar. Pengajaran remedial adalah suatu bentuk khusus pengajaran yang ditujukan untukmenyembuhkan atau memperbaiki sebagian atau keseluruhan kesulitan belajar yangdihadapi oleh peserta didik. Perbaikan diarahkan kepada pencapaian hasil belajaryang optimal sesuai dengan kemampuan masing-masing melalui perbaikankeseluruhan proses belajar mengajar dan keseluruhan kepribadian peserta didik. Pengajaran remedial merupakan salah satu tahapan kegiatan utama dalam keseluruhan kerangka pola layanan bimbingan belajar, serta merupakan rangkaian kegiatan lanjutan yang logis dari usaha diagnostik kesulitan belajar. Adapun langkah-langkah dalam pengajaran remedial, antara lain:
  1. Penelaahan kembali kasus dan permasalahannya
  2. Menentuakan alternative pilihan tindakan
  3. Melaksanakan layanan bimbingan dan penyuluhan/psikoterapi
  4. Melaksanakan pengajaran remedial
  5. Mengadakan pengukuran prestasi belajar kembali
  6. Mengadakan re-evaluasi dan re-diagnostik

Sasaran akhir kegiatan remedial identik dengan pengajaran biasa (pada umumnya) yaitu membantu setiap peserta didik dalam batas-batas normalitas tertentu agar dapat mengembangkan diri seoptimal mungkin sehingga dapat mencapai tingkat penguasaan atau ketuntasan tertentu, sekurang-kurangnya sesuai dengan batas kriteria keberhasilan yang dapat diterima. Secara empiric sasaran strategis tersebut tidak selamanya dapat dicapai dengan pendekatan sistem pengajaran secara konvensional, sehingga perlu dicari upaya pendekatan strategis lainnya. Ada dua strategi yang bisa dilakukan dalam pengajaran remedial, yaitu :

  1. Strategi dan pendekatan pengajaran yang bersifat kuratif

Tindakan ini dapat dikatakan kuratif apabila dilakukan setelah selesai program pembelajaran utama diselenggarakan. Hal ini dilakukan atas dasar bahawa ada seseorang atau beberapa orang atau keseluruhan peserta didik dapat dipandang tidak mampu menyelesaikan program proses belajar mengajar yang bersangkutan secara sempurna sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Pendekatan pengajaran yang dapat diterapkan, antara lain :

  • Pengulangan, dapat dilakukan pada setiap akhir jam pertemuan, pada setiap akhir unit (satuan bahan) pelajaran tertentu, dan pada akhir setiap satuanprogram studi (triwulan, semester, tahunan).Pelaksanaan layanan pengajaran remedial ini dapat diberikan dandiorganisasikan dengan cara :
  1. Perorangan (individual), apabila peserta didik yang memerlukan bantuanjumlahnya terbatas
  2. Kelompok (peer group), apabila terdapat sejumlah peserta didik yangmempunyai jenis/sifat kesalahan atau kesulitan bersama, bahkan bisa jugaterjadi dalam bidang studi tertentu dialami oleh peserta didik dalamsatu kelas secara keseluruhan.Waktu dan cara pelaksanaannya dapat diatur sedemikian rupa sesuai dengansituasi dan kondisi yang ada, seperti contoh di bawah ini :Diadakan pada jam pertemuan kelas biasa, apabila sebagian atau seluruhanggota kelas mengalami kesulitan yang serupa, dengan cara :bahan pelajaran dipresentasikan kembali dengan penjelasannya, diiadakan latihan/penugasan/soal kembali yang bentuknya sejenisdengan tugas soal terdahulu, diadakan pengukuran dan penilaian kembali untuk mendeteksi hasilpeningkatannya kea rah criteria keberhasilan yang diharapkan.
  3. Diadakan di luar jam pertemuan biasa, dengan cara : diadakan jam pelajaran tambahan pada hari, jam, tempat tertentuapabila yang mengalami kesulitan hanya seseorang/sejumlah pesertadidik tertentu (missal sore hari, sehabis jam pelajaran biasa, waktuistirahat, dan sebagainya), diberikan kembali dalam bentuk pekerjaan rumah dengan diperiksa kembali oleh guru hasil pekerjaannya, diadakan kelas remedial (khusus bagi peserta didik) yang mengalamikesulitan belajar tertentu, dengan cara : peserta didik laiun belajar dalam kelas biasa, sedangkan untukpeserta didik tertentu dengan mendapat bimbingan khusus dari guruyang sama atau guru yang telah ditunjuk sampai yang bersangkutanmencapai tingkat penguasaan tertentu sehingga dapat bersama-samalagi dengan teman sekelasnya.
  4. Diadakan ulangan secara total, apabila peserta didik yangbersangkutan prestasinya sangat jauh dari batas criteria keberhasilanminimal dalam hamper keseluruhan program (bidang studi), secarakonvensional disebut dengan tinggal kelas.
  5. Pengayaan dan pengukuhan

Layanan pengayaan ditujukan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan belajar ringan. Materi program pengayaan dalam hal ini dapat bersifat :

Ekuivalen (horizontal) dengan PBM utama, sehingga bobot nilainyadapat diperhitungkan oleh peserta didik yang bersangkutan.

Suplementer saja terhadap program PBM utama, dengan tidakmenambah bobot nilai tertentu yang penting dapat meningkatkanpenguasaan pengetahuan atau keterampilan bagi peserta didik yangrelative lemah, dan memberikan dorongan serta kesibukan bagi pesertadidik yang cepat belajar untuk mengisi kelebihan waktunya dibandingdengan teman sekelasnya.Teknik pelaksanaannya dapat dengan cara :

  • Berupa tugas/soal pekerjaan rumah bagi peserta didik yang lambat belajar
  • Berupa tugas/soal yang dikerjakan di kelas pada jam pelajaran tersebutjuga (sementara peserta didik yang lain mengerjakan program PBMutama) bagi peserta didik yang cepat belajar.
  • Percepatan
  • Alternatif lain adalah memberikan layanan kepada kasus berbakat tetapimenunjukkan kesulitan psikososial atau ego emosional, dengan jalanmengadakan akselerasi atau promosi kepada program PBM utamaberikutnya yang lebih tinggi.
  1. Strategi dan pendekatan pengajaran yang bersifat preventif

Teknik layanan pengajaran yang digunakan adalah :

  • Layanan kepada kelompok belajar homogin
  • Layanan pengajaran individual
  • Layanan pengajaran secara kelompok dengan dilengkapi kelas khhusus remedial dan pengayaan 
  1. Strategi dan pendekatan pengajaran yang bersifat pengembangan

Dalam pengajaran remedial diperlukan adanya pengorganisasian proses belajar mengajar yang sistematis dalam bentuik sistem pengajaran berprograma, sistem pengajaran modul, dan sebagainya. Sasaran utama dari strategi ini adalah agar peserta didik dapat segera mengatasi hambatan atau kesulitan yang mungkin dialaminya selama melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan dalam pelaksanaan pengajaran remedial, antara lain:

  • Metode pemberian tugas
  • Metode diskusi
  • Metode tanya jawab
  • Metode kerja kelompok
  • Metode tutor teman sebaya
  • Pengajaran individual
  • Program pengayaan

Kegiatan pengayaan adalah kegiatan yang diberikan kepada peserta didikkelompok cepat sehingga peserta didik tersebut menjadi lebih kaya pengetahuan danketerampilannya atau lebih mendalami bahan pelajaran yang sedang merekapelajari. Tujuan dari kegiatan pengayaan adalah agar peserta didik yang sudahmenguasai bahan pelajaran lebih dahulu dari teman-temannya tidak berhenti perkembangannya, dengan mengisi waktu kelebihannya dengan melakukan strategi kegiatan pengayaan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

  1. kegiatan pengayaan yang berhubungan dengan topik modul pokok
  2. kegiatan pengayaan yang tidak berhubungan dengan topik modul pokok.

Kegiatan pengayaan untuk dapat efektif mencapai tujuan, maka perlu diadakankegiatan penilaian, melalui dua cara, yaitu :

  • digabungkan dengan nilai modul pokok, dihitung dalam satuan kredit atau bobot tertentu
  • dipisahkan dari nilai pokok sehingga terdapat dua nilai.

2.7 Mutasi Peserta Didik

Secara garis besar mutasi peserta didik diartikan sebagai proses perpindahan peserta didik dari sekolah satu ke sekolah yang lain atau perpindahan peserta didik yang berada dalam sekolah. Oleh karena itu, ada dua jenis mutasi peserta didik, yaitu :

  1. Mutasi Ekstern

Mutasi Ekstern adalah perpindahan peserta didik dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Perpindahan ini hendaknya menguntungksn kedua belah pihak, artinya perpindahan tersebut harus dikaitkan dengan kondisi sekolah yang bersangkutan, kondisi peserta didik, dan latar belakang orang tuanya, serta sekolah yang akan ditempati.

Adapun tujuan mutasi ekstern adalah :

a. Mutasi didasarkan pada kepentingan peserta didik untuk dapat mengikutipendidikan di sekolah sesuai dengan keadaan dan kemampuan peserta didikserta lingkungan yang mempengaruhinya.

b. Memberikan perlindungan kepada sekolah tertentu untuk dapat tumbuh danberkembang secara wajar sesuai dengan keadaan, kemampuan sekolah sertalingkungan yang mempengaruhinya.

  1. Mutasi Intern

Mutasi intern adalah perpindahan peserta didik dalam suatu sekolah. Dalam hal ini akan dibahas khhsus mengenai kenaikan kelas. Maksud kenaikan kelas adalah peserta didik yang telah dapat menyelesaikan program pendidikan selama satu tahun, apabila telah memenuhi persyaratan untuk dinaikkan, maka kepadanya berhak untuk naik kelas berikutnya. Seorang peserta didik dinyatakan naik kelas apabila telah memenuhi persyaratan :

  1. Tidak terdapat nilai mati
  2. Program pendidikan umum rata-rata nilai sekurang-kurangnya 6,0. Boleh ada 2 nilai yang kurang dari 6,0 asal bukan pendidikan agama dan pendidikanpancasila dan kewrganegaraan.
  3. Program pendidikan akademis rata-rata nilai sekurang-kurangnya 6,0. Boleh ada2 nilai yang kurang dari 6,0 asal bukan bahasa Indonesia.
  4. Program pendidikan keterampilan rata-rata nilai sekurang-kurangnya 6,0 danboleh ada 1 nilai yang kurang dari 6,0.

Mengingat betapa pentingnya kenaikan kelas ini, maka setiap akhir semester sekolah selalu mengadakan rapat kenaikan kelas yang dihadiri oleh kepala sekolah dan dewan guru. Dalam hal ini peran wali kelas sangat menentukan naik tidaknya peserta didik dalam kelas tertentu. Di samping nilai akhir mata pelajaran, ada beberapa faktor yang dapat menentukan seorang peserta didik berhasil atau tidak untuk naik kelas, antara lain :

  • Kerajinan
  • Kedisiplinan
  • Tingkah laku

Dalam rapat kenaikan kelas ini dibicarakan juga tentang peserta didik yang nyaris tidak naik kelas, sehingga perlu mendapat pertimbangan dari berbagai pihak dan juga peserta didik yang terpaksa tidak naik kelas. Kepada peserta didik ini masih diberi kesempatan untuk mengulang kelas atau pindah ke sekolah lain. Dispensasi bagi peserta didik yang mengulang diberikan untuk kepentingan peserta didik dan sekolah.

Bagi peserta didik :

  • Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyesuaikan diri dengan sekolahyang baru
  • Dapat belajar lebih intensif
  • Karena malu, ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk naik kelas

Bagi sekolah : dispensasi bagi peserta didik yang mengulang akan memberikan nilai tambah minimal dari segi ekonomi.

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/BUKU%20manaj%20SISWA.pd 

Bab III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Manajemen peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah.  Knezevich (1961) mengartikan manajemen peserta didik atau pupil personnel administration sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individual seperti pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah.

3.2  Saran

Sebagai guru, kita harus paham tentang manajemen peserta didik, sehingga dapat mempermudah guru dan murid serta masyarakat sekolah dalam proses belajar mengajar. 

Don't forget to comment it

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s